Artikel

New Media

Ahmad Farid Mubarok

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

seseorang yang selalu diberi keindahan yang semu...

Facebook Nyaris Sempurna


OPINI | 19 September 2011 | 16:42 Dibaca: 137   Komentar: 4   2 dari 2 Kompasianer menilai menarik

teror mallware di facebook tidak membuat kita menarik acungan jempol “like this” kepada facebook. ini harus diakui, tak adalah situs yang sempurna. bahkan antiviruspun tak ada yang sempurna, maka harus selalu diperbaharui, diupdate. apalagi situs paling populer di abad 21 ini.

meski saya sudah menjadi zombie akibat terjangkiti virus via livechat facebook, dan kini ikut aktif menjangkiti pengguna facebook lain tanpa sepengetahuan saya (ini karena mallware tersebut bekerja di alam bawah sadar laptop saya), saya tetap rela mengacungkan jempol “like this”.

kompasiana. entah kenapa “like this” harus juga saya berikan kepada kompasiana. padahal facebook nyaris sempurna. fiturnya lengkap. kalau sekedar aktifitas nulis, itu sudah terpenuhi. untuk chatting ada. menyimpan dan berbagi foto, ada. ngegame, ada. berkirim pesan, ada. pemberitahuan acara, ada. pengingat birthday, ada. dari kelengkapan ini saya menilainya nyaris sempurna.

ada satu hal yang menurut saya menjadi kekurangan facebook. bukan terror mallware yang menghantui baru-baru ini, bukan, tapi adalah pengguna (user)nya sendiri yang membuat facebook menjadi kurang.

1316423779348166758

1316423918801923028

13164239971785136898

13164241071068601568

sepertinya kita belum siap akan new media yang canggih ini. hal-hal seperti itu yang membuat kita merasa bosan di facebook. lalu kita beralih ke kompasiana?

mungkin iya, lalu kita mencari alternatif di kompasiana. meski kita sadar betul mereka yang membaca tulisan kita sebagian besar bukan orang yang kita kenal, tidak seperti facebook yang kebanyakan adalah teman sekolah, komunitas, atau teman dekat, yang jika kita menulis dan dibaca mereka yang kita kenal, ada nilai sendiri yang bisa kita pamerkan. yah sekedar pamer kalau kita jago nulis, pamer kalau analisis kita mengagumkan, dan sebagainya.

selain hal yang baru, menarik, update dan fresh, satu hal yang menarik di kompasiana adalah kita mendapat penghargaan. rating dan comment, dan tentu saja jumlah pembaca menjadi nilai tersendiri. kebanggaan ketika tulisan kita bisa di highlight, di headline, direkomendasi atau sekedar masuk dan tersimpan di kompasiana menjadi penghargaan apresiasi tulisan kita yang tidak pernah kita dapatkan dimanapun didunia ini sebelumnya. apalagi sampai dimarahi admin, dikirimi pesan yang berupa peringatan karena tulisan kita bermasalah, itu adalah sebuah perhatian yang luar biasa yang tidak akan kita dapatkan hal serupa dimanapun. ini contoh penghargaan dari admin yang saya peroleh:

Assalamu’alaikum Farid,
Apa kabar, salam kenal dari saya di Jakarta.
Saya cukup kaget membaca tulisanmu yang sangat berani. Yang judulnya Inilah Admin Pemalas dan Senyum Jet. Tulisan itu ada benarnya, tapi siapapun yang membacanya akan merasakan aroma kebencian pada diri si penulis. Entah apa sebabnya. Seolah kamu merasa pengelola Kompasiana adalah pemalas yang telah menipu kamu dan kompasianer lain. Semula saya duga kamu itu punya masalah dengan saya atau Kompasiana. Kalau iya, silakan diungkapkan di sini. Tapi begitu melihat profilmu sebagai seorang santri, saya mencoba untuk memakluminya dan mengirim surat ini sebagai bentuk teguran dan klarifikasi atas beberapa pandangan yang kamu ungkapkan di dua tulisan tersebut.
FYI, saya juga santri, alumni Gontor yang kebetulan bekerja dan ditugaskan mengelola Kompasiana.
Pertama, dua tulisan tersebut tidak bisa dianggap sebagai bahan guyonan atau candaan. Itu ungkapan serius yang tidak bisa dianggap main-main. Menuduh seseorang sebagai penipu dan pemalas adalah tuduhan serius.
Kedua, terlalu ceroboh kamu menuduh Direktur KOMPAS.com Taufik Mihardja sebagai pemalas. Sebagai direktur tentu sangat sibuk dan agendanya segudang. Dia bisa ngeblog merupakan sebuah hal yang luar biasa. Begitu juga dengan pengelola lainnya, mereka punya tugas dan kewajiban yang berbeda-beda. Saya menerima kritik terhadap saya sebagai pemalas, dan saya terus berusaha ngeblog di tengah-tengah kesibukan mengelola kanal blog beranggota hampir seratus ribu orang ini.
Tuduhan kamu bahwa saya penipu juga sangat kasar dan berbahaya. Apa yang saya lakukan merupakan bagian dari tugas di Kompasiana. Kamu menuduh saya penipu sama artinya dengan menuduh kompasiana dan KOMPAS.com sebagai penipu. Ini bisa menimbulkan gugatan hukum!
Saya bisa saja menghapusnya langsung. Kedua tulisan itu jelas melanggar ketentuan Kompasiana, karena tulisan itu sudah memfitnah, mencemarkan, menghina, melecehkan, merendahkan juga menimbulkan kebencian pada orang tertentu.
Tapi sesama santri, saya ingin kamu belajar. Saya ingin kamu belajar banyak lewat tulisan dan bacaan di Kompasiana. Saya ingin kamu memahami konsekuensi dari setiap tulisan yang kamu tayangkan di dunia maya. Tulisanmu adalah harimaumu. Silakan hapus dua tulisan tersebut sebagai tanda kamu sudah mengerti apa yang saya sampaikan di sini.
Salam hangat,
ISKANDAR ZULKARNAEN
Admin Kompasiana

lalu apa yang diharapkan dari penghargaan dari orang yang tidak kita kenal? loh dikompasiana kana ada fitur perkenalan, kita bisa kenalan. iya, benar juga.  hal-hal inilah yang membuat kompasiana lebih menarik dibanding media yang nyaris sempurna facebook. jempol deh buat kompasiana!.

jempol saya juga saya berikan buat kompasianer yang membaca tulisan saya ini. :),

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: