
aku bersumpah bahwa aku adalah orang yang tak berguna | http://kilatpicisan.wordpress.com
Dibaca: 278
Komentar: 24
4 dari 6 Kompasianer menilai aktual
Kasus penganiayaan terhadap wartawan oleh sekelompok anak SMA kemarin sempat ramai mengundang perhatian. Banyak hal yang menyebabkan isu tersebut ramai diperbincangkan. Terpaan media adalah salah satunya. Namun, bukan media massa konvesional seperti TV, Radio, atau koran belaka yang punya andil dalam memanaskan isu tersebut. Media pertemanan seperti twitter, punya peran yang vital disitu.
Hari ini, kita mengenal beberapa nama siswa SMA 6 yang banyak ditulis di media massa. Dari twitter lah nama-nama siswa tersebut terdeteksi. Beberapa siswa dengan lugunya melontarkan tweet bernada dendam atas bentrokan yang terjadi di sekolahnya. “Mahakam, daerah yang keras!” Tulis salah seorang diantaranya. Tidak tepat begitu bunyi tweet-nya, tapi intinya begitu lah.
Berbagai status twitter yang dilontarkan oleh anak-anak SMA yang lugu itu langsung menuai reaksi yang beragam. Ada yang keras, ada pula yang santai. Saya sempat memperhatikan progress status twitter anak-anak yang lugu itu, karena kebetulan kemarin saya lagi kurang kerjaan. Sampai kemudian, akun-akun tersebut menghilang satu per satu.
Saya pernah mendengar sebuah ungkapan lucu yang di lontarkan oleh Soleh Solihun, seorang Jurnalis, yang juga seorang Komedian, katanya: “Sejak ada twitter, hidup menjadi lebih rumit”.
Saya setuju dengan ungkapan itu. Saya merasakannya ketika atasan saya dikantor memutuskan untuk mem-follow akun saya. Dalam kasus SMA 6 ini, jika saja tidak ada twitter, anak-anak SMA itu tidak akan mencurahkan kepuasannya atau apapun perasaannya perihal bentrokan di sekolahannya kepada sebuah media yang bisa dengan mudahnya dilacak oleh publik. Mereka akan mengatakannya kepada teman-teman nongkrong, atau kepada teman-teman komplek, atau kepada diary-nya (tapi saya rasa, kemungkinan menulis di diary ini sangatlah kecil).
Tapi, berhubung twitter sudah menjadi begitu dominan saat ini, seiring dengan pesatnya perkembangan penggunaan gadget canggih seperti ponsel-ponsel pintar dan komputer jinjing, juga makin banyaknya tempat berkumpul yang menyediakan hotspot gratis, nampaknya mereka lebih suka mengutarakan perasaannya lewat twitter ketimbang mengatakannya kepada teman-teman tongkrongan.
Masalahnya adalah, twitter merupakan media penyalur berita yang cepat, bahkan, sangat cepat! Soal akurasi nomor dua, yang penting cepat. Kita tidak bisa langsung menuduh para pemilik akun twitter yang melontarkan tweet bernada dendam itu sebagai pelaku pemukulan. Soalnya, kita tidak tahu, dalam keadaan yang bagaimana anak-anak itu menuliskan tweet tersebut.
Kabar terakhir, diberitakan bahwa salah satu dari pemilik akun tersebut diungsikan ke cianjur oleh orang tuanya, agar pikirannya tenang. Anak-anak SMA diserang dengan gencar dengan kata-kata yang mungkin sangat keras, oleh banyak sekali orang. kalut, tentu saja. Mungkin, sebaiknya mereka jangan diberi gadget dulu untuk bermain twitter?
Terus terang saya kasihan melihat anak-anak SMA yang hari ini namanya berseliweran di media itu. Mereka tampaknya tidak terlalu paham terhadap apa yang sebenarnya telah mereka lakukan. Saya harap, pihak-pihak terkait dapat menyelesaikan masalah ini dengan sebijak mungkin. Saya yakin, mentolerir kekerasan, akan menimbulkan kekerasan-kekerasan lain yang bisa jadi makin parah kadarnya.