
Di rumah, saya dipanggil Dar. Di sekolah, saya dipanggil Dor. Di kampus, ada yang memanggil saya Day. Di Kompasiana, teman-teman memanggil saya Isjet (alias Iskandarjet, artinya Iskandar Z, kepanjangannya Iskandar Zulkarnaen). Temukan iskandarjet di About.me, Slideshare.net, Twitter, Facebook dan LinkedIn!
Dibaca: 319
Komentar: 66
4 dari 12 Kompasianer menilai menarik
Sejak akhir minggu kemarin, Kompasiana dihebohkan dengan istilah “Sastra Instan” yang, merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti karya prosa atau puisi atau sejenisnya yang dibuat secara langsung (tanpa dimasak lama) dapat diminum atau dimakan [saya juga heran mengapa website KBBI hanya menyantumkan arti kata "instan" dalam konteks makanan dan minuman].
Setelah saya baca tulisan pertamanya, saya menilai istilah itu dilontarkan dalam dalam bingkai sastra yang di dalamnya berkutat para sastrawan dan penulis-penulis puisi dengan jam terbang tinggi. Puisi, dalam konteks ini, jelas bukan sekedar permainan kata berima yang dituangkan dengan pena. Tapi hati dan emosi lebih banyak dilibatkan di dalamnya. Kalau sastrawan kondang hanya membuat puisi untuk membuat puisi, maka boleh saja itu disebut sebagai sastra instan (atau sebutan lainnya).
Maka akan jadi masalah jika istilah, kerangka berpikir dan idealisme sastra tadi dibawa ke ranah blog yang hadir sebagai media terbuka. Di media sosial, setiap orang dengan apapun latar belakangnya bisa masuk dan berbagi apapun lewat tulisan (juga bentuk karya lainnya). Tidak ada batasan, tidak ada pengkotak-kotakkan. Semuanya dibikin mudah, semuanya dibuat instan (agar semua orang bisa terlibat di dalamnya).
Dengan segala kemudahan yang disajikan, siapapun bisa menulis. Dia menulis dengan membawa namanya sendiri, kepribadiannya, kemampuannya, kebiasaannya, juga hobi dan profesinya. Itulah yang kemudian dapat dieksplorasi lebih dalam dalam bingkai Personal Branding.
Kalau ada seorang dokter membuat puisi, hasilnya tidak bisa disebut sebagai karya sastra instan, karena dia memang bukan sastrawan. Tapi coba baca tulisan-tulisannya seputar dunia kedokteran dan kesehatan. Saya yakin tidak ada yang berani menyebutnya sebagai dokter instan. Begitu seterusnya, berlaku untuk setiap orang.
Di Kompasiana, ada begitu banyak orang yang menulis sesuai dengan keahlian dan profesinya. Tapi tidak sedikit yang senang berbagi apa saja, juga ada yang ingin belajar. Ada yang ingin mengaktualisasikan diri, mempromosikan kompetensi dan banyak motivasi lainnya. Di sisi pembaca, ada yang berkunjung ke Kompasiana untuk mencari hiburan, berdiskusi, berdebat, memperluas wawasan, mengais ilmu dari banyak orang.
Kalimat ingin belajar sengaja saya pertebal, saya miringkan, plus saya garis bawahi untuk menegaskan bahwa proses inilah yang banyak dilakoni oleh para Kompasianer lewat tulisan-tulisan yang mereka tayangkan setiap hari. Dan belajar bukan hanya monopoli orang biasa (seperti saya dan sebagian besar kita). Para pakar dan akademisi pintar sekalipun harus selalu belajar untuk meningkatkan diri menuju titik yang lebih baik. Belajar jelas tidak mengenal batas usia, tempat dan waktu. Semakin banyak belajar, kita semakin merasa tidak tahu, sehingga semakin berhasrat untuk mempelajari ilmu berikutnya.
Seorang sastrawan sekalipun, awalnya dia hanya orang biasa yang memiliki hobi menulis. Setelah lama berkutat dengan karya sastra dan mengasah diri dengan serangkaian kegiatan seni dan budaya, maka orang-orang pun sepakat menyebutnya sebagai sastrawan (lewat karya-karyanya yang memang jempolan). Dan begitulah setiap manusia berproses.
Jadi, tidak ada istilah instan dalam proses mencari jati diri. Yang instan hanya mie yang terlanjur kita sukai. Mungkin itu sebabnya kamus besar kita tidak menyantumkan pengertian lain untuk kata instan, selain untuk sesuatu yang bisa dimakan dan diminum.
#salaminstan
JET