
Menulis bukan untuk perlihatkan pada orang-orang bahwa saya lebih banyak tahu. Tapi, menulis adalah cara untuk perlihatkan pada diri sendiri atas banyak hal yang belum saya tahu
Dibaca: 262
Komentar: 47
3 dari 7 Kompasianer menilai aktual
Gbr: Pungky Prayitno
Bisa ‘menggemukkan’ dan bisa ‘bikin kurus’. Demikian kesimpulan yang mencuat di pikiran saya saat menelisik ulang perjalanan sekitar 5 tahun dalam dunia media sosial. Kesimpulan yang saya akui sangat terlihat tidak cerdas.
Betapa tidak. Beragam fenomena saya dapati di dunia media sosial. Dari berbagai bentuk pertikaian yang terjadi di berbagai forum media sosial. Sampai kepada manfaat yang juga tidak sederhana dengan leluasa bisa diambil.
Beberapa teman yang pernah akrab dengan saya di beberapa media sosial seperti Multiply, Blogspot, Wordpress dan terakhir Kompasiana; tidak sedikit yang bahkan menghilang.
Menyimak alasan mereka. Skeptis adalah kesan yang dimunculkan, ketika beberapa kali saya mencoba menelusuri alasan di balik pilihan mereka untuk mundur dan kemudian menghilang dari dunia media sosial.
“Tidak terlalu banyak manfaat yang bisa saya dapat dari media-media sosial itu. Hanya menghabiskan waktu!” demikian seorang rekan menyebutkan alasannya. Sedikit sinis, mungkin.
“Bagiku dunia media sosial. Lazimnya dunia maya, aku kira manfaat yang bisa didapatkan juga cenderung semu saja. Lihat saja, kalau pun mendapat kawan. Kawan yang didapat juga tidak akan membawa pengaruh penting apa-apa. Saat kita sakit di rumah, yang peduli tetap juga orang di rumah atau kawan-kawan sekitar rumah.” Demikian sebut rekan lainnya.
“Sepertinya tetap lebih nyaman kita pilih yang nyata-nyata saja, deh.”
Saya sendiri mencoba tidak mengambil kesimpulan apa pun berkaitan dengan beragam pilihan yang mereka sebutkan tersebut. Berupaya untuk jernih melihat dan meyakini bahwa kesimpulan yang mereka ambil adalah sebuah pilihan sadar. Sebuah pilihan yang nyaris bisa dipastikan berangkat dari pengalaman dalam ber-media sosial. Olah renung. Sampai kemudian tiba pada sebuah kesimpulan: surut!
Dari kondisi faktual yang saya dapati selama ber-media sosial demikian. Tak urung, saya sendiri juga terdorong mencoba melihat sendiri kembali, jangan-jangan pilihan mereka benar, dan pilihan saya untuk tetap maju adalah salah.
Nah, dari sana kemudian saya terbawa pada sebuah perenungan. Betapa, semua yang terlihat sejatinya membawa manfaat. Tetapi, tergantung bagaimana melihat. Selain juga meyakini diri sendiri bahwa yang dilihat adalah benar.
Halnya media sosial. Melirik-lirik berbagai kelebihan yang didapati dari menjaga konsistensi di media sosial. Saya kerap terkesan dengan seorang guru yang sama-sama sering menulis di Kompasiana.
Wijaya Kusuma. Lelaki berbadan tambun yang juga memiliki obsesi positif dan konsistensi yang tidak kalah “tambun” itu, menjadi salah satu inspirator sekaligus bahan kajian menarik menurut saya–jika mengaitkan dengan fenomena media sosial. Setidaknya buat saya sendiri.
Bagaimana tidak. Di sela-sela kesibukannya di sebuah sekolah di kawasan Rawamangun itu. Ia nyaris tidak pernah lelah untuk menulis dan menulis. Buah yang didapat, sekian buku sudah pernah dilahirkan olehnya. Baik yang ditulis secara solo atau bahkan duet dengan penulis-penulis.
Menariknya. Beberapa bukunya yang pernah saya perhatikan adalah kumpulan dari tulisan-tulisannya selama ini di blog-blog yang ia miliki.
Jadi teringat sugesti yang ia pergunakan untuk diri sendiri terkait pencapaian yang sudah ia dapatkan. Hal itu dikatakannya saat saya berkunjung ke sekolahnya di bilangan Rawamangun sekitar setahun lalu.
“Saya mencoba pergunakan visi dalam melakukan sebuah aktifitas (blog; pen). Dari sana saya menciptakan goal, tujuan dan sasaran dari apa yang saya lakukan.” Demikian landasan logika yang dipergunakan sosok guru yang kerap dipanggil dengan Omjay dimaksud. Bukan pilihan sikap sia-sia, per akhir Desember 2011 saja, sosok guru ini sudah melahirkan 7 buku!
Tidak itu saja. Winda Krisnadefa, istri dari seorang rekan jurnalis bola kenamaan, Krisna Lazuardi. Turut menjadi bagian yang menarik untuk saya kaji.
Di balik kebersahajaannya sebagai ibu rumah. Di antara ruwetnya tugas seorang ibu menjalankan tanggung jawab terhadap anak, dan juga terhadap suami tentunya. Ia tetap menjaga konsistensinya untuk tetap bergiat di media sosial. Hasilnya, beberapa novel dari tangannya sudah mengisi pasar perbukuan nasional.
Hal demikian bukan fenomena positif yang sederhana saya kira.
Tidak terhenti di sana, ibu dua anak tersebut bahkan mendapatkan penghargaan atas konsistensi dalam dunia media sosial. Ganjaran ISB Award. Cukup prestisius untuk kalangan pegiat media sosial.
Di luar itu. Saya merasa cukup tertarik juga menyimak seorang rekan, Hazmi Fitriyasa yang pergunakan nama pena Hazmi Srondol. Dengan kegemarannya bermedia sosial. Ia bisa menelurkan satu buku humor fenomenal: Gayus Srondol ke Italy.
Menariknya, saat bersua di SME Tower di bilang Pancoran beberapa pekan lalu. Ia menyebut bahwa bukunya itu tidak saja sudah dikenal di Indonesia. Tetapi juga sudah berada dalam list salah satu perpustakaan di Australia (dan saya melihat list tersebut dari website perpustakaan dimaksud). Tidak kalah prestisius tentu saja.
Dalam balutan rasa ikut bangga itu, saya mendengar guyon di balik pencapaiannya itu;”Padahal, untuk saya bisa menulis saja. Kudu ngerayu istri dulu untuk mau ‘dimadu’ dengan komputer. Dan bahkan harus ngebujuk-bujuk dua anakku juga biar gak mengganggu ayahnya. Apalagi, tahulah Brader, terkadang aku pulang kerja saja sudah malam” ujar lelaki dua anak dan bekerja sebagai teknisi di salah satu perusahaan operator seluler ternama tersebut.
Dari fenomena yang saya sebutkan demikian. Lagi-lagi, ini kembali ke visi, pada goal yang diciptakan oleh mereka yang memilih terjun bergiat.
Mereka yang bisa memunculkan dampak positif itu, dari yang saya amati, cenderung tidak mencari-cari alasan yang dirasanya bisa mengendurkan semangat. Padahal mengingat pekerjaan mereka yang menuntut perhatian ekstra:
Omjay dengan kewajiban mendidik siswa-siswanya. Winda Krisnadefa dengan tanggung jawab besar sebagai seorang Ibu. Dan Hazmi sebagai teknisi yang menuntut konsentrasi kerja yang tidak kalah tinggi itu. Sebenarnya, jika saja mereka bukan orang bermental positif bisa saja berkilah,”pekerjaanku terlalu menyita waktu dan tenaga.”
Akhirnya saya harus mengangguk pada satu kesimpulan lain (tanpa berharap disebut cerdas), bahwa soal ber-media sosial, juga tidak bisa lepas dari bagaimana memupuk mental. Dan memang, mereka yang melihat tujuan akan lebih tahu jalan. Sedang mereka yang tahu jalan tentu lebih cepat tiba di tujuan. (ZA)
Also Published in: PROTAGONI