Artikel

New Media

Fandy Sido

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

masih amatir, bercita-cita jadi pionir. | Sebagian fiksi dan opini ada di www.bukufandy.com.

Kala Fiksi Dipajang di Etalase Produk Pers


OPINI | 16 December 2011 | 20:18 Dibaca: 105   Komentar: 39   2 dari 3 Kompasianer menilai menarik

Indah sekali. Bagaikan anak matahari yang ikut terbit setiap hari, karya-karya fiksi di banyak media mungkin oleh sebagian orang telah dijadikan sarapan pagi atau pengantar tidur di malam hari. Seiring perkembangan teknologi informasi pula, kini fiksi merambah sebagai kekuatan baru komunikasi pers. Boleh dikata, saat ini adalah pembentukan perspektif baru dalam melihat geliat strategi media publik, kala karya-karya fiksi dipasang di etalase berlabel produk pers.

Fiksi-fiksi berupa cerita pendek (cerpen) dan puisi dalam setidaknya lima tahun belakangan sudah merambah ke media arus utama. Bukan sekadar ocehan perasaan yang dibumbui diksi menggugah, karya-karya fiksi tersebut menjadi sesuatu yang dicari setiap hari, seakan-akan menjadi mineral penyeimbang beratnya berita-berita aktual.

Sebut saja puisi-puisi “Hari Jumat”  dan “Di Telaga Remis” karya Baequni M. Haririe yang diapresiasi ratusan pembaca Kompas.com. Atau novel “Aku Bukan Teroris”-nya Handoko Adinugroho yang menembus angka ribuan pembaca pada tiap-tiap dari 97 episode yang dipublikasikan dalam bentuk tulisan bersambung selama medio 2011 lalu. Sebagian dari episode-episode itu bahkan ditampilkan sebagai pilihan editor bahkan tulisan utama. Tentu saja tak melulu berlandaskan alasan si empunya berasal dari kalangan pers. Justru dalam hal ini, media arus utama menjadikan kanal fiksi sebagai “peluru perak” untuk mengalahkan pesaing-pesaing yang tak bisa dikalahkan dengan produk-produk pers pada umumnya.

Media-media pers di Indonesia saat ini, khususnya yang bergerilya melalui dunia maya, bersaing ketat memperebutkan hati pembaca. Mereka memoles wajah, ada yang merangkai sendiri topengnya. Sejauh yang bisa diamati, media-media berita internet yang memasang karya-karya fiksi di etalase terdepan mereka masih bisa dihitung jari. Baru satu-dua memang. Tapi, justru karena masih keterbatasan itu, sifat eksklusif dua arah tumbuh, bagi media yang bersangkutan dan tentunya, bagi penulis fiksi.

Secara kontekstual fiksi memang tak tergolong dalam produk pers. Undang-undangnya dengan tegas membuat sekat yang nyata konten berita dan fiksi. Hanya saja, pemenuhan etalase pers di bawah payung bisnis mengharuskan para nakhoda korporasi untuk memperbanyak ragam konten demi pemenuhan target tingkat keterbacaan.

Sastra kembali tumbuh meski perlahan. Kerinduan pada karya-karya Ismail Marzuki dan gurindam-gurindam Raja Ali Haji memang masih agak utopis untuk diobati dengan karya-karya masa kini. Zaman bergeser, begitu pula preferensi pembaca untuk menemukan aliran tepat menikmati karya-karya sastra fiksi. Era digital menyodorkan jenis teropong baru untuk melihat dunia. Dalam keriuhan itu, fiksi seakan-akan menemukan setapak untuk menyusup dan muncul di panggung dengan sendirinya tanpa banyak disadari.

Sambutan pembaca media utama terhadap karya-karya fiksi acap kali lebih hangat daripada terhadap berita-berita harian yang dikemas sebagai topik pilihan. Eksklusivitas tema dan ragam bahasa oasis yang mengalir dalam pembuluh darah tulisan-tulisan fiksi memberi kehangatan yang secara digital mengklaim bentuk yang komunikatif. Cerpen-cerpen dibagi ke berbagai jejaring sosial sampai puluhan kali sejak dimuat. Puisi-puisi dan novel disebarkan melalui tautan-tautan di forum luar arus utama. Dan secara ajaib, popularisme media utama yang bersangkutan ikut terdongkrak.

Boleh dikata, atmosfer karya-karya fiksi bagi publik Indonesia semakin tebal dan berlapis. Sebagian memang diam-diam membaca, sebagian lain terang-terangan mengomentari setiap tulisan dan menyematkan ikon senyuman buah permintaan tulisan-tulisan selanjutnya untuk mereka baca. Sebagai masyarakat yang mengadopsi sifat latah teknologi, publik turut menantikan karya-karya fiksi di etalase harian media utama, dan bukan lagi sekadar pemanis melainkan ragam lauk yang renyah lagi bikin ketagihan.

Kelak, fiksi akan berjalan satu sanding dengan berita-berita berat. Luapan karya-karyanya akan menjadi arus baru yang membuat tombol-tombol “baca selengkapnya” dan “bagi” akan ditekan ratusan bahkan ribuan kali per hari, setiap hari. Akan banyak buku-buku cetakan mesin yang lahir dari pajangan fiksi di harian-harian nasional, dan memulai era baru cara masyarakat menikmati fiksi, sebagai bentuk pemenuhan hak membudayakan sastra dan menyambung karya bangsa. Akan dibutuhkan semakin banyak penulis karya fiksi. Akan diperbanyak kolom dan kanal ragam fiksi tak hanya puisi. Kelak fiksi akan punya etalase sendiri di hati masyarakat, dan secara nyata menghadirkan kesehateraan bagi segenap penggiatnya sampai ke ujung negeri.

Mengapa tidak?

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: