
masih amatir, bercita-cita jadi pionir. | Sebagian fiksi dan opini ada di www.bukufandy.com.
Dibaca: 77
Komentar: 14
1 dari 1 Kompasianer menilai aktual
Kecenderungannya tetap sama. Fiksi tematis lebih laris. Sebagai media publik yang lebih dikenal sebagai bagian dari korporasi pers, Kompasiana ikut andil dalam memajukan minat fiksi tanah air. Ratusan fiksi dimuat setiap hari. Beberapa di antaranya diapresiasi khusus, tentunya juga yang lebih tematis sesuai isu yang berkembang di arus utama. Tanda-tandanya jelas kan?
Fiksi tematis yang dimaksud adalah karya tulis genre fiksi yang dituangkan dalam ragam tulis populer. Seakan-akan setia pada perkembangan isu, bahkan tulisan-tulisan fiksi hasil “polesan” isu hangat laris manis. Tempat-tempat utama disediakan, kotak rekomendasi disiapkan. Alasannya satu, karena memenuhi selera pasar dari media yang menaunginya, yang masih bersinggungan dengan ”arus utama”.
Strategi pun dibanting 180 derajat. Para penulis fiksi ikut-ikutan mengejar isu politik, hankam, bahkan kriminalitas. Tujuannya tidak lain adalah memenuhi selera pasar tadi. Pengelola tentunya lebih mafhum hal ini. Karakter media yang diampunya tak boleh dihilangkan begitu saja. Ibarat kertas kado untuk sebuah berita terpanas yang terpampang di topik pilihan arus utama, fiksi pun dibalutkan sesuai motif dan warna yang sedang masuk hari itu. Luar biasa cerdas.
Sayangnya, hal ini tidak (atau setidaknya belum) berlaku bagi para penulis pemula yang tidak tahu apa-apa. Bagi sebagian besar dari kelompok ini, menulis fiksi adalah keinginan yang datang dari inspirasi harian sangat pribadi. Ide-ide fiksi mereka lahir dari perenungan bangun tidur sampai paling banter saat mengguyur air segar di kamar mandi. Mereka tidak banyak tahu perkembangan berita hangat, sehingga inspirasi fiksinya jauh lebih liar. Hasilnya, kalah pamor. Ketika bersanding dengan fiksi-fiksi tematis di kolom tulisan terbaru, maka tak banyak harapan untuk mendapatkan apresiasi lebih baik.
Belum lagi jika hitungannya dalam konteks “apresiasi teman-ke -teman”. Nampak sekali kesenjangan popularitas antara penulis-penulis lama dengan yang bari-baru. Mereka yang masih menjajaki kepenulisan fiksi di blog keroyokan masih meraba-raba teman sekaligus mempelajari medan. Berbeda dengan kelompok penulis yang lebih dahulu berkecimpung, mudah sekali mendapatkan apresiasi. Nilai menarik dan inspiratif bisa disematkan bahkan tanpa harus membaca tulisan fiksinya. Padahal, dibutuhkan sambutan lebih bagi para penulis baru agar mereka memahami jalan pikiran semua pihak yang mengapresiasi.
Saat ini sepertinya para penulis fiksi baru harus diperkenalkan fenomena apresiasi yang terjadi. Jenis-jenis tulisan apa yang berpeluang diapresiasi lebih baik. Jika memang mereka bersedia mengikuti tren larisnya fiksi tematis, sepertinya akan lebih baik bagi persinggungan kreativitas mereka dengan selera pasar yang berkembang di kalangan penikmat fiksi.
Bagaimanapun, di satu sisi tetap dibutuhkan momen untuk mengapresiasi karya-karya fiksi yang berada di luar konteks tematis dan aktual. Fiksi-fiksi yang lahir dari imajinasi lebih bebas bisa jadi berkualitas lebih baik dari sekadar tulisan fiksi tematis yang ditulis oleh seorang populis. Tujuannya semata-mata adalah agar segepok karya dari penulis-penulis baru bisa dilirik dan dipertimbangkan atas dasar kualitas, bukan semata-mata “siapa penulisnya” atau “mengangkat isu hangat apa”.
Karena fiksi selalu membuka pandangan baru, maka setiap tema fiksi seharusnya bersifat istimewa, bahkan jika tidak mengikuti isu yang beredar.
Mempelajari fenomena pasar menampung karya fiksi sangat menarik masa sekarang ini. Fiksi sudah merambah ke mana-mana, termasuk menjadi produk bisnis media utama. Jika tidak cerdas melihat pintu yang terbuka, para penulis sulit berkembang. Jika memang pada akhirnya harus mengikuti selera pasar media utama dan membuat fiksi-fiksi tematis, semestinya imajinasi itu lahir dari benak penulis dengan kemurnian niat, kemajuan kualitas, dan kerendahan hati.
Salam Fiksi.