
Menulis bukan untuk perlihatkan pada orang-orang bahwa saya lebih banyak tahu. Tapi, menulis adalah cara untuk perlihatkan pada diri sendiri atas banyak hal yang belum saya tahu
Dibaca: 129
Komentar: 18
2 dari 3 Kompasianer menilai aktual
Kebetulan, di Twitter, saya belum tertarik untuk follow aktris-aktris muda bertubuh bahenol, berkulit pualam dengan senyum menawan. Bukan apa-apa, tetapi sejujurnya memang itu menjadi pilihan sikap saya dalam ber-twitter, mengingat dengan sadar saya masih muda, darah masih panas, dan cenderung lekas ‘panas’ kalau harus follow aktris-aktris itu. Maka, aktris yang benar-benar saya yakini tidak ‘menjual’ kecantikannya lagi jadi pilihan saya untuk Twitternya saya follow. Salah satu pilihan saya jatuh ke Jajang C. Noer (@ibutjantik).
Nah, berawal dari linimasa aktris yang lakon-lakon di filmnya saya kagumi, Jajang C. Noer. Tadi lewat tengah malam melintas di Twitter, berisi kalimatnya: “Tuhanku, bila hati kawanku…terluka oleh tingkah ujarku, dan kehendakku jadi panduku, Ampunilah.”
Kalimat itu terasakan sekali oleh saya sebagai kalimat yang benar-benar keluar dari hati yang paling dalam, dari kamar tanpa debu yang berudara kesadaran. Sampai saya sedikit menimpali:“Sangat menyentuh nurani, @ibutjantik.”
Menyebut “nurani” mengingatkan saya pada ibu kandung saya sendiri yang kebetulan memiliki nama mirip dengan kata yang kerap disebut-sebut oleh pendeta, ustadz, dan pemuka spiritual itu. Iya, ibu saya sendiri memiliki nama Nuraini (saya selalu merasa layak untuk menyebut nama ibu saya di mana saja).
Dari pergulatan bayangan ibu saya sendiri dan dorongan untuk menulis namanya, sedang di sisi lain juga ingin merenung nurani itu sendiri. Maka kemudian, lahirlah beberapa isi twit saya saat telapak malam tinggal beberapa langkah lagi menuju pagi:
Iya, itu adalah beberapa twit saya yang mengalir saat merenungi soal nurani saat malam jelang pagi di @zoelfick. Sampai kemudian saya simpulkan untuk juga saya publikasi dalam tulisan kecil ini, cuma karena lagi dan lagi karena dorongan nurani. Setidaknya bisa memacu diri saya sendiri untuk bisa lebih dalam mengenali nurani. Sedang soal nanti memberi inspirasi pada mereka yang membacanya, memang sempat menjadi harapan saya juga. Namun harapan itu saya coba lupakan karena Twit saya siang tadi yang berisi: Tidak ada yang bisa kita tuntut untuk menjadi lebih baik, kecuali diri sendiri. Pada korelasi “pada siapa harus dituntut” atawa diharapkan? Kecuali memang diri sendiri saja.”
Sedang jika kemudian—andai isi twit itu juga ternyata menginspirasi orang lain—-saya mengumpamakan dengan menyibukkan diri untuk cipratkan ke tubuh sendiri yang memang masih butuh air kebijaksanaan, dan juga terciprat ke orang lain tentu juga saya mensyukuri sekali.