Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Syukri Muhammad Syukri

Orang biasa yang ingin memberi sesuatu yang bermanfaat kepada yang lain…. tinggal di kota kecil Takengon selengkapnya

E-Paper, Bisa Baca Koran Lebih Pagi dari Daerah Terpencil

REP | 29 January 2012 | 23:11 Dibaca: 1385   Komentar: 5   3

13278785771335896522

e-Paper Harian Kompas yang bisa dibaca lebih pagi bersama secangkir kopi panas dari pelosok daerah terpencil.

Ditengah menjamurnya media online di jagat maya dengan menyediakan berita terkini dan tercepat belum memuaskan para pembaca. Kebiasaan membuka lembaran-lembaran surat kabar (koran) yang berisi berita dan informasi tidak mungkin dilupakan. Seni dan tata letak media cetak, ditambah ulasan yang lebih lengkap, pilihan kepada media cetak tetap jadi prioritas.

Padahal, berita dan informasi itu umumnya sudah lebih dahulu diketahui melalui media online. Hanya saja, berita yang disajikan berita online belum lengkap. Ulasan berita yang lebih luas hanya dapat ditemukan di media cetak, sehingga banyak pembaca yang cukup tergantung kepada lembaran-lembaran surat kabar.

Di daerah saya, Takengon Aceh Tengah, untuk membaca lembaran-lembaran surat kabar, baru dapat dibaca sekitar pukul 10.00 WIB. Inipun untuk penerbitan lokal. Sedangkan untuk surat kabar nasional baru bisa dibaca esok harinya (terlambat sehari). Transportasi menjadi kendala sebuah penerbitan tiba lebih pagi. Membayangkan membaca Harian Kompas setelah shalat subuh yang ditemani secangkir kopi panas, terasa bagai mimpi disiang bolong.

Saya harus pasrah membaca berita hangat dari Harian Kompas setelah beritanya basi, tetapi itulah resiko berada di daerah terpencil dan terisolir. Dan dengan sangat terpaksa, penerbitan lokal menjadi satu-satunya bacaan pagi bersama secangkir kopi. Penerbitan lokal lebih banyak didominasi berita-berita daerah. Sedangkan porsi berita nasional dan luar negeri sangat sedikit. Kalau ingin membaca ulasan berita nasional dan luar negeri, kita harus menunggu esok harinya.

Ditengah hangatnya berita nasional yang terkait dengan berbagai masalah hukum dan politik, “syahwat” untuk segera bisa membaca ulasan lengkapnya, makin tak tertahankan. Minggu lalu, saya mencoba berlangganan Harian Kompas e-paper dengan harga langganan sebulan sebesar Rp.50 ribu. Setelah mentrasfer uang sebesar itu melalui BNI, saya mengirim konfirmasi kepada pengelola e-paper. Tidak lama setelah itu, saya pun bisa membuka Harian Kompas versi e-paper.

Senangnya, ternyata tampilan Harian Kompas versi e-paper sama persis dengan Harian Kompas versi cetak, baik jenis hurufnya, pewarnaan, dan tampilannya. Kemudian, saya mengarahkan kursor ke halaman dua, karena disana ada kolom Kilas Politik dan Hukum yang menjadi bacaan favorit setiap membaca Harian Kompas. Wah, semuanya persis dengan Harian Kompas versi cetak (kertas). Saya merasa sangat puas. Ini artinya, membaca Harian Kompas versi e-paper sama dengan membaca Harian Kompas versi cetak (kertas).

13278797261886751211

e-paper Harian Kompas edisi Senin 30 Januari 2012, bisa baca koran dari pelosok desa bersamaan dengan warga Jakarta

Sejak berlangganan Harian Kompas e-paper, secara rutin sekitar pukul 05.30 WIB saya sudah berada di depan laptop untuk membaca berita-berita terbaru yang disajikan Harian Kompas. Mimpi untuk membaca Harian Kompas bersama secangkir kopi panas bukan lagi sekedar “impian,” tetapi telah menjadi kenyataan.

Daerah terpencil dan terisolir bukan lagi jadi halangan untuk membaca Harian Kompas lebih cepat dengan tampilan format aslinya. Kini, saya bisa membaca Harian Kompas seperti warga Jakarta membaca harian ini diwaktu bersamaan.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Asyiknya Acara Pernikahan di Jakarta (Bukan …

Irwan Rinaldi | 11 jam lalu

Matematika Itu Hasil atau Proses? …

Pical Gadi | 12 jam lalu

Usia 30 Batas Terbaik untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 12 jam lalu

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Phsycologhy Dangdut Pengaruhi Cara Pandang …

Asep Rizal | 8 jam lalu

“Triple Steps Solution” Upaya …

Hardiansyah Nur Sah... | 8 jam lalu

Every Children is Special …

Hardiansyah Nur Sah... | 8 jam lalu

Pemilik Bagasi Lost 500 Juta Rupiah Itu …

Irawan | 8 jam lalu

Habibi & Kakak vs Sentimentil Sang Guru …

Daniel Oslanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: