Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Kimi Raikko

Just Another Days In Paradise

Janji Bukan Lelucon, Sebuah Film Pendek Hazmi Srondol

REP | 01 March 2012 | 05:23 Dibaca: 355   Komentar: 40   0

1330579360146737701

Sumber: http://4.bp.blogspot.com

Apa yang bisa anda lakukan bila telah berjanji kepada seseorang? Saya ingat sekali, jika ular yang dipegang ekornya, maka manusia yang dipegang adalah kata-katanya yang tentu saja termasuk janji yang diucapkan. Namun sifat manusia suka ingkar janji. Cobalah anda daftar lagu-lagu yang pernah anda dengar, sebagian besar tentang kekasih yang ingkar janji, bukan?

Tentunya janji bukan hanya diucapkan kepada kekasih atau calon istri ketika hendak menikah. Janji seorang blogger untuk menyerahkan buku ke seorang blogger lainnya yang berada di luar negeri merupakan sebuah janji yang mungkin terasa berat untuk dipenuhi. Namun seperti judulnya, Janji Bukanlah Lelucon, janji tersebut ternyata benar-benar dipenuhi.

Demikianlah yang dilakukan oleh rekan kita anggota kompasiana. Mas Hazmi Srondol yang terkenal dengan bukunya yang berjudul Srondol Gayus ke Itali membuktikan bahwa janjinya bukanlah lelucon. Pembuktian tersebut ia tuangkan dalam sebuah film pendek berdurasi lebih dari delapan menit yang diuoplad ke YouTube.

Film pendek ini, meski dibuat secara amatir membuktikan bahwa memenuhi janji adalah hal yang perlu dilakukan, meskipun itu harus ke luar negeri. Film pendek ini juga menunjukkan pergeseran sedikit demi sedikit konten blog yang selama ini didominasi oleh teks menuju gambar bergerak yang lebih kaya dengan cerita.

Kita dapat membandingkan, seandainya pemenuhan janji yang dilakukan oleh Mas Hazmi tersebut ditulis dalam bentuk teks, tentu akan sangat berbeda ketika kita lihat melalui video. Meskipun kedua media ini memiliki kelebihan masing-masing, melihat secara langsung memberikan rasa terlibat yang lebih daripada sekadar hanya membaca.

Video ini hampir keseluruhannya dibintangi oleh rekan kompasianer. Video ini dimulai oleh sebuah percakapan via ponsel antara Om Dian Kelana dengan Mas Hazmi menyangkut sebuah janji. Kemudian mereka bertemu dan selanjutnya Mas Hazmi berangkat ke Malaysia. Secara pengambilan gambar saya rasa untuk film berdurasi delapan menit cukup baik. Tampaknya acara pemenuhan janji tersebut memang sudah diatur dan kemudian dijadikan sebuah film pendek guna berbagi dengan banyak orang.

Coba kita lihat film tersebut berikut ini.

Saya ingat sekali, ketika Kopdar di TIM hari minggu yang lalu, Mas Hazmi mengingatkan kita semua untuk bisa membuat film pendek, apa pun itu bentuk dan ide ceritanya. Saya rasa saran tersebut perlu kita pertimbangkan agar konten blog semakin bervariasi. Ini juga akan membuat penulis di kompasiana akan makin menguasai apa yang ia tulis. Misalnya bila anda berbicara smartphone, tentu akan lebih bagus jika apa yang anda lakukan terhadap smartphone tersebut direkam dalam bentuk video kemudian upload ke YouTube dan bagi dengan teman-teman di kompasiana dengan menyertakan video tersebut.

Untungnya lagi, kesempatan bagi orang-orang yang benar-benar ingin fokus dan menguasai suatu hal tertentu dibuka lebar-lebar oleh YouTube. Bila kita ingat, dulu YouTube adalah tempat menayangkan video klip yang umumnya berupa lagu. Namun kini YouTube mulai bergeser dengan membuat channel-channel yang bisa dimanfaatkan untuk menyampaikan apa yang anda rasakan, apa yang anda lakukan.

Tidak hanya YouTube, sebagaimana dikatakan oleh Mas Hazmi, Vimeo mengadakan lomba film pendek dengan hadiah yang sangat besar. Namun tentu saja ada persyaratan minimal yang harus dipenuhi dan mungkin juga anda perlu sedikit mengetahui bagaimana sebuah film yang baik dihasilkan. Itu artinya memang butuh beberapa langkah untuk bisa membuat sebuah film pendek yang bagus. Namun jangan khawatir, film pendek beberapa waktu ke depan akan semakin banyak diminati sehingga anda bisa me-monetisasi film pendek yang anda buat tersebut.

Kembali kepada Janji Bukan Lelucon. Tampaknya Mas Hazmi telah mencuri star dengan mulai beralih ke konten video. Saya tentu saja berharap, Mas Hazmi bisa menghasilkan film pendek terutama mengenai lelucon suatu waktu dan meledak layaknya ledakan bukunya Srondol Gayus ke Itali.

Note: Perhatikan Soundtrack-nya

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saat Warga Kupang Anti-McDonald …

Yusran Darmawan | | 29 August 2014 | 06:43

Pak Jokowi, Saya Setuju Cabut Subsidi BBM …

Amy Lubizz | | 28 August 2014 | 23:37

Jatah Kursi Parlemen untuk Jurnalis Senior …

Hendrik Riyanto | | 29 August 2014 | 04:36

Jangan Mengira “Lucy” sebagai Film …

Andre Jayaprana | | 28 August 2014 | 22:59

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Mafia Migas dibalik Isyu BBM …

Hendra Budiman | 9 jam lalu

Pelecehan Seksual pun Terjadi Pada Pria di …

Nyayu Fatimah Zahro... | 15 jam lalu

Jokowi dan “Jebakan Batman” SBY …

Mania Telo | 15 jam lalu

Kota Jogja Terhina Gara-gara Florence …

Iswanto Junior | 18 jam lalu

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 22 jam lalu


HIGHLIGHT

Daun Ilalang Publishing (Kembali) Menggeliat …

Rumahkayu | 9 jam lalu

Soal BBM, Bang Iwan Fals Tolong Bantu Kami! …

Solehuddin Dori | 9 jam lalu

Kebahagiaan Termurah, Termudah dan Bisa …

Seneng Utami | 9 jam lalu

Mengajari Anak Siap Kalah sejak Dini …

Daniel Yonathan Mis... | 9 jam lalu

Anak Kami Tak Diakui Kemdikbud (?) …

Nino Histiraludin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: