Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Valentino

Hanya Seorang Pemimpi

Tantangan Media Tradisional Terhadap ‘Omnivora’ Media Online

OPINI | 25 March 2012 | 18:24 Dibaca: 536   Komentar: 16   5

1332656428128476859

Ilustrasii (4.bp.blogspot.com)

Perkembangan teknologi tentu saja telah dirasakan oleh semua orang dewasa ini khususnya untuk kebutuhan berita dan informasi.

Ketika koran  cetak dianggap sesuatu yang penting, perkembangan teknologi memasuki era baru yaitu berita radio dan kemudian disusul oleh TV.  Ketika itu semua mata dan telinga tertuju pada perkembangan baru ini. Sehingga tentu saja, media cetak conventional mendapat tantangan dan saingan tersendiri.

Satu persatu koran cetak  dan majalah mulai ‘tumbang’ tetapi ada pula yang masih bertahan, namun mereka harus menerima kenyataan menghadapi terobosan baru media cetak baru yang lebih khusus ditujukan pada pangsa pasar tertentu. Katakanlah fashion, infotainment, tabloid atau koran olah raga, majalah remaja dan berbagai jenis majalah dewasa lainnya.

Dalam perkembangannya media cetak conventional akhirnya harus menghadapi tantangan baru ketika internet ditemukan dan mulai dimanfaatkan oleh banyak orang.  Bukan hanya itu, Radio dan TV berlomba-lomba untuk menyesuaikan diri agar tetap menjadi perhatian.

Ya, mereka semua terpaksa harus menyesuaikan diri dengan memanfaatkan media internet apalagi ketika media sosial seperti myspace, Facebook atau Google+ mulai digandrungi pengguna internet dewasa ini. Semuanya harus membenahi diri.

Gambaran di atas, bisa saya katakan sebagai sebuah “Ominivora” media online terhadap media conventional atau tradisional  lainnya termasuk buku.

Ominivora berasal dari bahasa Latin  omne yang berarti semuanya atau segalanya dan vorare yang berarti melahap atau memakan. Sehingga Omnivora dapat diartikan “memakan/pemakan segalanya”.

Inilah fenomena ketika media online dalam bentuk media digital cenderung akan melahap semua apa yang selama ini kita manfaatkan secara conventional.

Seperti yang ditulis oleh stateofthemedia setahun yang lalu, Industri berita seolah-olah  terlambat untuk beradaptasi dengan budaya atau kebiasaan teknik penyajian konten. Pada 2012 ternyata fenomena tersebut telah tumbuh.

Semua ini menimbulkan pertanyaan apakah para raksasa teknologi akan ‘melahap’ segala bentuk jenis media berita yang sebagaian besar masih  mewarisi tradisi mencari konsumen melalui mitranya secara conventional.  Apakah akan datang suatu titik dimana kelangsungan hidup perusahaan media akan jauh lebih kecil, misalnya ketika Facebook dianggap telah membeli mitra warisan media seperti The Washington Post?

Sekarang ini, sudah ada tanda-tanda hubungan keuangan yang lebih erat antara raksasa teknologi dan industri berita. Katakanlah rencana YouTube untuk menjadi produsen konten televisi, melalui dana kerjasama dengan Reuters berencana menayangkan berita asli.

Yahoo baru-baru ini menandatangani kerjasama konten dengan ABC News sebagai penyedia video berita secara online. AOL, tidak mau kalah, untuk mempertahankan eksistensinya mereka untuk menghasilkan konten aslinya sendiri dan kemudian membeli The Huffington Post.

Dengan peluncuran  ”Social Reader”, Facebook telah mendapatkan kemitraan baru dengan The Washington Post, The Wall Street Journal, The Guardian dan lainnya. Pada Maret 2012 pendiri  Facebook, Chris Hughes, membeli majalah berusia 98 tahun “New Republic”.

Melihat ketergantungan pada raksasa teknologi yang ada, sebenarnya media tradisional mulai membenahi diri sejak lama dengan membuat sendiri situs-situs berita untuk menjaring pelanggan atau konsumen dan mempertahankan serta menaikan pendapatan iklan.  Katakan saja, pada tahun 2011, operasi berita tradisional juga mengambil langkah baru untuk menggunakan Web mereka sendiri. The Associated Press meluncurkan kemitraan dengan lebih dari dua lusin perusahaan berita berlisensi konten berita dan mengumpulkan royalti dari agregator.

Di Amerika Serikat, menurut stateofthemedia, sekitar sepersepuluh dari koran harian AS yang masih ‘hidup’ terus merencanakan untuk menerbitkan fasilitas baru yang lebih baik untuk pelanggan digital berita berbayar.

Banyak perusahaan  berita sedang menciptakan jaringan penjualan iklan digital mereka secara mandiri, memotong pihak ketiga dan pindah ke jenis pemasaran digital dan konsultasi. Bahkan beberapa organisasi seperti The Financial Times dan The Boston Globe telah memilih keluar dari dunia “app” yang dikendalikan oleh Apple dan Google dengan membuat halaman mobile menggunakan HTML 5.

Semua perusahaan media telah berbenah, menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dewasa ini, khususnya memanfaatkan media online. Di sinilah kita akan melihat bagaimana mereka menawarkan layanan untuk mempertahankan para pelanggannya. Dan perlu anda ketahui bahwa media jurnalisme warga adalah merupakan salah satu terobosan tersendiri dari perusahaan media itu sendiri.

13326565712102373395

free analytics for godaddy

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Trik Licik Money Changer Abal-abal di Bali! …

Weedy Koshino | | 20 August 2014 | 23:31

Seleksi CPNS 2014 Dibuka dan Diselingi …

Pebriano Bagindo | | 21 August 2014 | 05:00

Menanti Keputusan MK …

Wisnu Aj | | 21 August 2014 | 02:20

Senja Kala Pesepeda di Yogyakarta …

Yusticia Arif | | 21 August 2014 | 09:02

[Proyek Buku] Catatan Warga Indonesia di 10 …

Kompasiana | | 12 August 2014 | 23:19


TRENDING ARTICLES

Hebat, Indonesia Paling Menjanjikan Sedunia! …

Firdaus Hidayat | 3 jam lalu

Dapur Umum di Benak Saya …

Itno Itoyo | 14 jam lalu

Bonsai MK dan KPU, Berharap Rakyat Cueki …

Sa3oaji | 15 jam lalu

Menunggu Aksi Kenegarawanan Hatta Rajasa …

Giens | 16 jam lalu

Inilah Nama-nama Anggota Paskibraka 2014 …

Veronika Nainggolan | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: