Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Hastuti Ishere

Manusia biasa yang senang belajar dan merantau. Alumni IPB yang pernah menempuh pendidikan di negeri selengkapnya

Indonesia: Bekas Jajahan Inggris yang Susah Berbahasa Inggris

OPINI | 20 November 2012 | 18:25 Dibaca: 5407   Komentar: 8   3

Ada yang bilang, bahasa adalah jendela dunia. Ada yang bilang juga kalau buku adalah jendela dunia. Jadi yang benar yang mana? Menurut saya semuanya benar. Bukan karena takut ditimpuk atau dihujat. Buku itu kan dibuat dengan tulisan. Tulisan akan dipengaruhi bahasa. Jadi bahasa dan buku adalah saudara kembar (atau kembar siam? atau kembar beda ortu?) yang membuka ranah pengetahuan. Dan yang namanya bahasa, ternyata bukan hanya susunan kata-kata atau kalimat dengan struktur aturan tertentu yang harus dilisankan dan dituliskan. Cuma sekedar gerak-gerik tubuh alias bahasa isyarat juga sudah termasuk bahasa. Ada yang bilang bahasa isyarat, ada pula yang berupa bahasa tubuh, bahkan bahasa bayi. Sungguh hebat nian bahasa itu. Dia sudah eksis bahkan sebelum yang menisbatkan istilah bahasa (baca: manusia) melihat dunia.Gerak-gerik janin yang diamati lewat USG bisa dibilang bahasa janin, kan? Semoga bukan pemaksaan adanya.

Kalau mengamati negara-negara jajahan Inggris, contoh saja: India, Malaysia, Singapura. Rakyat di negara-negara tersebut pandai berbahasa Inggris. Memangnya Indonesia juga bekas jajahan Inggris? Demikianlah adanya. Hanya saja Indonesia tidak termasuk negara-negara persemakmuran Inggris. Inggris agak kalah pamor dengan Hindia Belanda. Bagaimana tidak kalah pamor? Belanda menjajah kita selama 350 tahun sedangkan Inggris cuma menjajah selama sepersekian-nya masa jajahan Belanda. Jepang malah menjajah seperseratus-nya masa jajahan Belanda.

Jadi wajar dong rakyat Indonesia banyak yang tidak bisa berbahasa Inggris, apalagi bahasa Belanda maupun bahasa Jepang. Oh ya? Kalau begitu seharusnya rakyat Indonesia mahir berbahasa Belanda. Kenyataannya, yang mahir berbahasa Belanda adalah para kakek nenek yang diberkahi Tuhan Yang Maha Kuasa karena pernah hidup di zaman kolonial dan masih eksis hingga sekarang. Itu pun tidak semua. Padahal biasanya negara yang pernah dijajah salah satu atau bahasa nasional utamanya adalah bahasa sang negara penjajah. Filipina bekas jajahan Spanyol, salah satu bahasa nasionalnya adalah bahasa Spanyol alias bahasa Latin, termasuk nama penduduknya. Rwanda bekas jajahan Perancis, salah satu bahasa nasionalnya adalah bahasa Perancis.

Eit, jangan coba-coba menyejajarkan dengan Thailand. Negara ini memang belum pernah dijajah, makanya bahasa nasionalnya tidak berasal dari negara manapun kecuali negara itu sendiri. Inilah salah satu kehebatan rakyat Indonesia dalam hal nasionalisme. Saking cintanya dengan bahasa nasional, sampai-sampai melahirkan Sumpah Pemuda, tak ada satupun bahasa asing yang menjadi bahasa nasional. Akan tetapi, seolah-olah ada sedikit rasa cinta lama yang terpendam (baca:kecenderungan) dari pendiri negeri ini terhadap negerinya Pangeran William itu. Kita memang tak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional. Tapi banyak sekali penduduk Indonesia yang mengenal frasa-frasa ini: kunci inggris dan garam inggris. Frasa-frasa ini sudah jadi kosa kata dalam bahasa Indonesia dan sejajar kedudukannya dengan frasa kacang bogor. Itulah salah satu bentuk kreativitas rakyat Indonesia.

Jadi harus bilang wow gitu karena bisa berbahasa nasional? Rasanya belum cukup wow. Paham bahasa nasional (dan lokal) memang harus, tapi paham bahasa internasional juga perlu. Act locally, think globally. Ini jargon juga sudah masuk ke banyak pikiran orang Indonesia. Setidaknya bahasa Inggris sudah didaulat menjadi bahasa internasional. Contoh saja, memang sih kalau mau berkeliling Eropa dengan modal bahasa Inggris yang pas-pasan tak akan bikin mati kelaparan atau kebingungan. Pakai saja bahasa tarzan alias bahasa isyarat, pasti ketemu juga maksudnya. Memang benar. Namun bukankah akan lebih asyik kalau bisa berbahasa Inggris setidaknya? Mau tambah teman baru, baca petunjuk jalan, atau menawar harga souvenir oleh-oleh jadi lebih enak bukan?

Di Tanzania, tempat Gunung Kilimanjaro, gunung tertinggi se-Afrika itu nongkrong, rakyatnya sebagian besar mampu berbahasa Inggris. Padahal negara ini bekas jajahan Jerman dan tingkat kemakmurannya masih di bawah Indonesia. Di negara ini, bahasa Inggris dipakai minimal sejak tingkat pendidikan SMP alias sebagai bahasa akademik. Artinya, bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan, yang mencakup bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar serta dalam buku-buku mata pelajaran.

Belajar bahasa Inggris tak harus selalu lewat kursus. Ada seribu satu macam cara yang bisa ditempuh, bahkan terasa lebih fun (hayo, mengakulah kalau kosa kata bahasa Inggris ini juga seolah jadi kosa kata umum bahasa nasional percakapan sehari-hari). Lagu Barat, film-film Barat, game online, media sosial, semuanya bisa jadi sarana. Sampai-sampai ada Kampung Inggris segala, seperti yang banyak bertebaran di Kediri. Kalau sudah mampu berbahasa Inggris, biasanya akan terpacu untuk mempelajari bahasa asing lainnya.

Tapi di negara Cina, yang bisa berbahasa Inggris sedikit, kok malah ekonominya maju? Jangan salah, Cina alias RRC itu belum pernah dijajah Inggris. Kalau yang ini memang lain ceritanya dan tak akan dibahas di sini. Boleh lah saat ini kita tak terlalu jago berbahasa Inggris, tapi jangan pula berhenti untuk terus belajar. Belajar bahasa asing termasuk salah satu cara mencegah kepikunan lo. Masih ingatkah insiden saat anggota komisi DPR bertandang ke Australia dan berakhir dengan kehebohan yang bikin malu bangsa? Hanya gara-gara tak punya email resmi DPR? Ah, sudahlah yang lalu biar berlalu. Jangan mau jadi bangsa yang hanya jago dengan bahasa sendiri. Ingatlah bahwa negeri ini sedang menggalakkan industri pariwisata. Bukan sekadar untuk menambah devisa, tapi juga untuk mengangkat nama baik bangsa yang sempat tercoreng karena adanya insiden berbau terorisme. Tetap hargai dan lestarikan bahasa sendiri dan terus buka wawasan untuk bahasa asing. Salam.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 8 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 10 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: