Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Sarifudin Lubis

Miskin Harta Kaya Hati

Media Massa dan Terbentuknya Ruang Publik Baru

REP | 20 November 2012 | 17:08 Dibaca: 548   Komentar: 0   0

Sebagai sebuah terminologi dalam sebuah kajian sosial, ruang publik atau public sphere diperkenalkan dan dipopulerkan oleh Habermas pada tahun 1962.

Ruang publik atau public sphere dalam uraian Habermas adalah suatu istilah yang digunakan untuk merujuk pada seluruh realitas kehidupan sosial yang memungkinkan masyarakat untuk bertukar pikiran, berdiskusi serta membangun opini publik secara bersama.

Dalam pengertian tersebut, ruang publik tidak hanya diasosiasikan pada keberadaan ruang sosial secara fisik, namun juga menyangkut institusi sosial beserta saluran komunikasi yang memungkinkan publik untuk dapat menyalurkan opini atau pendapatnya secara bebas tanpa  tekanan dari negara.

Gagasan utama Habermas mengenai public sphere terdapat dalam buku “Strukturwandel Del Offentlicteit; Untersuchungen Zu Einer Kategorie Der Burgerlichen Gesellschaff (1962), dalam Bahasa Inggris (1989) “The Structural Transformation of The Public Sphere”.

Konsepsi ruang publik atau public sphere dapat dikatakan merupakan penciptaan ruang sosial di antara negara (state) dan masyarakat (civil society), di dalamnya setiap warga negara dapat terlibat dalam pertukaran pikiran dan berdiskusi bersama untuk membicarakan urusan publik tanpa harus berada dalam kontrol dan intervensi negara maupun kekuatan ekonomi.

Kesan penciptaan uang inilah yang kemudian dapat diperankan oleh media massa yang berfungsi sebagai institusi sekaligus medium sirkulasi informasi bagi negara dan masyarakat untuk memperbincangkan masalah publik.

Perwujudan ruang publik lewat media massa lalu disadari sebagai bagian penting yang dapat dijadikan basis dalam menegakkan demokrasi dan penguatan civil society. Oleh karenanya pengendalian dan intervensi terhadap media massa oleh negara maupun pasar secara sistematis, sama saja halnya dengan mengendalikan kepentingan publik.

Dengan demikian, media seharusnya diposisikan steril dan netral dari berbagai tekanan yang mempengaruhinya agar dapat menjalankan fungsi ruang publiknya secara ideal. Namun dalam tataran praktiknya hal itu tentu saja sangatlah sulit untuk diimplementasikan.

Bagaimanapun juga media massa pada level praktik adalah bagian dari institusi bisnis, yang menjadikan profit sebagai orientasi utama mereka. Sehingga logika seberapa besar margin antara pengeluaran modal dan keuntungan yang diperoleh menjadi kerangka kerja mendasar yang sudah terinternalisasi dalam institusi pengelola media massa.

Kondisi dan situasi seperti itu menjadikan media massa tak ubahnya semata komoditas industri. Sebagai sebuah entitas komoditas, akan selalu ada kekuatan tertentu yang mendominasi media massa, entah itu pengusaha kapitalis atau elit politik yang berada dalam struktur penguasa.

Media massa diyakini bukan sekadar medium pengantar informasi antar elemen sosial dalam suatu masyarakat, melainkan juga berfungsi sebagai instrumen penundukan dan pemaksaan konsensus oleh sekelompok orang yang secara ekonomis dan politik dominan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Di Kabupaten Ini, Seluruh Desanya Wajib …

Khairunnas Djabo | | 01 August 2014 | 15:34

Peran Kita untuk Menghindari Jebakan Negara …

Apung Sumengkar | | 01 August 2014 | 15:26

Empat Cincin Jantungnya Masuk Lewat Pembuluh …

Posma Siahaan | | 01 August 2014 | 13:46

Gua-gua Bekas Penggalian Batu Kapur di Desa …

Mas Ukik | | 01 August 2014 | 15:11

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 5 jam lalu

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu

Kader PKS, Mari Belajar Bersama.. …

Sigit Kamseno | 10 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 12 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: