Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Seandainya Aku Seorang Pemimpin

OPINI | 11 March 2013 | 10:11 Dibaca: 564   Komentar: 0   0

SEANDAINYA AKU SEORANG PEMIMPIN

Oleh: Muhammad Azwi

Pemimpin yang kuat adalah orang yang mempunyai solusi untuk menghentikan keterpurukan yang tengah melanda negeri ini, karena tanpa solusi dan paradigma baru maka sesungguhnya ia hanya akan melanjutkan keterpurukan yang ada, dan pemilihan seorang pemimpin harus peka terhadap latar belakang calon pemimpin tersebut, tidak mengangkat seorang pemimpin yang memiliki latar belakang ekonomi yang mendesak, sebab bisa jadi jabatan yang akan diembannya hanya akan dijadikan sebagai lahan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, sehingga akan terjadilah penyelewengan yang ujung-ujungnya hanya akan menambah beban pemerintah dan memeras rakyat. Seorang pemimpin adalah orang yang memiliki tugas dan tanggung jawab yang berat, menjadi seorang pemipin tidak semudah apa yang kita bayangkan, dimana semua tugas berada pada pundak seorang pemimpin. Sehingga menjadi seorang pemimpin harus siap dengan semua tanggung jawab yang akan diembannya.

Selama ini rakyat terlalu sering mengalami kebohongan akan janji-janji yang disampaikan oleh setiap calon pemimpin ketika kampaye dilakukan, tetapi ironis sekali ketika jabatan sudah berada di genggamannya, semua apa yang dikatakan ketika kampaye dulu kini tinggal kenangan pahit yang menyesakkan dada setiap rakyatnya, tidak peduli lagi dengan getirnya rontaian rakyat yang terjepit pada himpitan ekonomi yang merongrong setiap sudut gubuk-gubuk kecil. Pemimpin-pemimpin sekarang hanyalah sebuah simbol dari kepengurusan dunia, tidak lebih mereka hanya sebatas pewaris lingkaran zionis yang hanya membawa kesengsaraan pada rakyat yang dipimpinnya, mereka sudah menyeberang jauh dari lintasan kepemimpinannya, bahkan telah menghianati sunnah kepemimpinan yang telah diajarkan oleh Baginda Rasulullah SAW dan para khalifah-khalifah sebelumnya. Mereka hanya sibuk dengan aktivitas-aktivitas kecil yang tak membawa mamfaat lebih kepada rakyatnya, pemimpin-pemimpin sekarang hanya sibuk dengan aktivitas berkunjung yang hanya memamerkan kewibawaan dibalik atribut yang tak bermakna sama sekali, membuka dan meresmikan program-program rakyat yang sama sekali tak ada sumbangan ide dari kebijakan kepengurusannya, yang ada hanya cepretan foto-foto dari antetnya yang dibayar dengan sekeping uang untuk membantu program rakyat tersebut, dan itu dijadikan sebagai bahan laporan akan kebijakan pemerintahannya, padahal dia tidak lebih hanya sebatas numpang duduk dan minum air teh saja dibalik kesengsaraan rakyat yang dipimpinnya.

Itulah beberapa potret dari pemimpin kita sekarang ini, yang tidak bisa kita menyalahkan siapa-siapa lagi,karena kursi kepemimpinannya didapatkan dari hasil suara kita yang tidak peka melihat dengan jelas latar belakang dan watak dari pemimpin tersebut. Dan kedepannya sebagai rakyat kita harus lebih peka lagi untuk melihat semua latar belakang dari sosok calon yang akan memimpin kita,agar kesalahan kedua tidak terulang lagi. Orang yang patut kita jadikan seorang pemimpin adalah mereka yang telah banyak memberikan contoh-contoh yang baik terhadap pola intraksi dalam bermasyarakat, memiliki akhlak yang baik, tidak bermasalah dan bukan bagian dari masalah yang dihadapi negeri ini. Kedepannya kita sebagai rakyat biasa yang tak memiliki apa-apa selain apa yang bisa kita nikmati hari ini untuk memenuhi kebutuhan semua keluarga saja, harus lebih berhati-hati dan lebih cermat didalam memilih siapa pemimpin kita yang lebih pantas, mungkin dari kehidupan sederhana kita banyak telah merasakan kesengsaraan yang telah kita alami selama ini, meskipun mahkota kepemimpinan banyak yang telah mengalami pergantian, tapi kesengsaraan ini seperti tetap saja hadir dalam kehidupan kita.

Melihat penomena ini tidak salah jika sekarang ini kita banyak mendengar, sebagian dari anak negeri ini lebih memilih hidup sendiri, tanpa terikat dan tergantung pada kebijakan pemimpin yang ada, yang lebih kerennya kita kenal dengan istilah GOLPUT (golongan putih) yang sama sekali tak memiliki kepercayaan terhadap setiap calon pemimpin tersebut untuk memimpinnya. Dan ini merupakan salah satu rintihan dari sebagian rakyat, yang tak ingin kembali dihianati oleh pemimpinnya sendiri. Lalu jika berkaca dari penomena seperti ini, tak bisa dipungkiri lagi untuk kedepannya kader atau pengikut dari golongan putih ini akan semakin bertambah, bahkan mungkin sebagian dari penduduk kita akan lebih memilih tak punya pemimpin saja jika hanya akan menambah kesengsaraannya. Lalu siapakah yang pantas untuk menjadi pemimpin kita, yang setiap rakyat akan tersenyum jika memilihnya, merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya atas kehadirannya sebagai pemimpin? tak akan ada yang bisa menjawab selain orang-orang yang memiliki kepedulian penuh untuk mewujukan kesejahteraan dan kedamaiaan atas peradaban negeri ini, apakah mereka itu orang-orang yang lahir dari golongan para bangsawan, para pelajar, keturunan kaya raya, atau para kiyai….? maka dengan tegas aku akan menjawab “tidak juga”. Yang jelas sekiranya aku yang menjadi pemimpin “aku harus mengutamakan rakyat diatas segalanya, siap menjadi pelindung atas rakyat, tidak mengeksploitasi dan merusak rakyat, karena aku datang dari mereka dan untuk mereka, dan akulah yang menjadi pelindungnya bukan mereka yang menjadi pelindungku. Dan tidak menghianati mereka yang telah memberikan kesejukan pada hidupku”.

Dan aku titipkan sepatah kata yang sederhana, yang bisa membuka mata dan pikiran kita, untuk mencapai kesejahteraan hidup kita dalam bermasyarakat, ini bukan puisi atau syair, karena aku bukan seorang pujangga atau penyair yang handal, tapi ini hanya luapan hati dari bisikan kebenaran:

Antara tindakan dan kata-kata

Di negeriku banyak orang yang suka puisi

Karena padanya terdapat sedikit hiburan

Tapi aku tak ingin kata ini lahir dari pemimpinku

Aku tak menginginkan puisi darinya

Yang aku inginkan hanyalah tindakan mereka

Karena puisinya tak membawa kedamaian padaku

Sudah lama aku mencari orang yang menghadirkan tindakan

Tapi yang datang orang-orang yang membawa sajak,dan puisi saja

Ingin rasanya aku lari kepuncak rinjani

Dan berteriak yang sekerasnya

Akulah pemimpin yang kalian rindukan

Akulah yang datang membawa tindakan itu

Akulah yang membawa apa yang kita inginkan bersama

Bukan membawa apa yang aku inginkan saja

Tetapi kalian lebih banyak memilih kata-kata

Dan tidak menyikapi apa yang kita inginkan

Maka, aku hadirkan kata-kata pada kalian

Inilah kepedulian yang bodoh

Yang akhirnya membahayakan kita semua

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 10 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 10 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 10 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: