Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Fajarbaru

menulis untuk melawan proses amnesia sejarah

Dunia Maya Membisukan Mulut, Memulutkan Jari

OPINI | 13 March 2013 | 08:44 Dibaca: 411   Komentar: 0   3

13631419151600098394

Ilustrasi (dokpri)

Dunia memang telah dilipat menjadi sebuah kotak kecil layar HP, Laptop, dan Televisi (meminjam idenya David Harvey). Secara psikologis, ruang dan waktu telah dipadatkan sedemikian rupa oleh perkembangan cyber media. Saya ingat ketika masih kuliah di Bandung dan harus cuti 3 tahun sekali, kampung halaman terasa jauh dan waktu 3 tahun untuk bersua kembali dengan orang tua dan keluarga di Flores terasa begitu lama. Tetapi itu dulu ketika internet masih menjadi barang mewah karena harus membayar 4-5 ribu perjam di warnet. Ketika HP masih dianggap barang mewah dan hanya dimiliki oleh teman-teman dari keluarga kalangan pengusaha. Dengan demikian, wartel menjadi satu-satunya penyalur rasa rindu kepada orang tua. Karena uang saku pas-pasan, maka 3 bulan sekali saya baru bisa menghubungi keluarga. Itu 15 tahun yang lalu!

Lima belas tahun kemudian semuanya berubah. Laptop dan HP terasa bukan barang mewah lagi yang hanya bisa dimonopoli oleh golongan borjuis atau kalangan atas. Internet juga demikian. Hanya berbekalkan HP jadul dengan fasilitas browser, saya bisa terhubung dengan keluarga kapan dan di mana saja. Saya bisa menikmati melepaskan rindu dengan keluarga kapanpun saya mau. Sehingga rasanya tetap dekat satu sama lain meski terpisah jauh oleh ruang dan waktu real. Karena itu, liburan tidak lagi menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu seperti 15 tahun yang lalu.

Namun, HP dan Internet jika tidak digunkan dengan bijak malah justru mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat! Inilah faktanya. Ketika membuka laptop, tersambung dengan internet, login di Facebook dan Kompasiana, saya bisa terhubung dengan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara tetapi sekaligus mengisolasi saya dari pergaulan saya dengan orang-orang yang tinggal serumah dengan saya ataupun dengan tetangga yang ada di RT saya.

Saya mungkin menjadi orang yang lebih banyak diam dengan mulut, tetapi lebih banyak berbicara dengan menggunakan jemari saya. Tetapi perasaan saya seolah-olah sedang berbicara secara nyata, langsung, face to face dengan teman-teman dunia maya. Namun, itu semua harus diakui tetaplah maya, hanya perasaan saya saja yang mengatakan itu nyata ketika seluruh pikiran dan perasaan saya dilibatkan di dalamnya. HP dan Internet memang telah mengaburkan batas antar maya dan nyata sehingga seolah-olah semuanya terasa nyata (mengutip konsep simulacra dan hiperrealitas-Jean baudrillard).

Kalau mau jujur selama sehari kata-kata yang keluar dari mulut saya lebih kurang dibandingkan yang meluncur dari tarian jemari saya di atas layar HP dan Laptop. Saya seperti menjadi ‘anak-anak autis’ (mohon maaf ketika harus menggunakan analogi ini) yang asyik dengan duniaku sendiri padahal ada orang yang mungkin saja sedang berada bersama saya di dalam rumah, di dalam transportasi publik, atau di tempat kerja. Mata dan hati saya seolah-olah tersedot semuanya ke sebuah layar. Semuanya memang terasa mengasyikan. Karena ketika berelasi dalam dunia maya saya seolah-olah menjadi pribadi yang bebas memilih memerankan lakon apa saja, menjadi siapa dan apa seturut keinginan saya. Saya bebas mengenakan aneka topeng, bebas menuangkan pikiran, ide, atau pendapat tanpa merasa terintimidasi oleh dunia real sekitar saya. Namun, saya mesti mawas diri juga karena tidak ada dunia yang “bebas aturan” dan “bebas nilai,” dunia maya sekali pun tetap ada hukum yang mengaturnya. Sehingga saya tidak perlu terlena dan bablas dalam menikmati kebebasan yang mungkin saja semu ini.

Dunia maya memang memabukkan! Dia adalah anggur baru yang harus diisi dengan kantung yang baru juga jika tidak ingin kantungnya koyak dan anggurnya tumpah. Perlu kearifan untuk menggunakkannya agar tidak tenggelam dalam euforia semu yang mengaburkan batas antar nyata dan maya, asli dan palsu, potret asli diri dan topeng-topeng. Tetap yang nyata dan perlu perhatian saya adalah orang-orang real yang saya jumpai di rumah, di tempat kerja, dan di lingkungan saya. Jangan sampai justru secara psikologis saya jauh dengan keluarga di rumah, tetapi lebih dekat dengan teman-teman di Facebook, Kompasiana, Wordpress, Twitter, dll.

Di sinilah saya ketika sedang menuliskan ini di dashboard Kompasiana. Saya menikmati kesenyapan bicara dan kesibukan pikiran dan jari yang tetap berkomunikasi. Aneh tapi nyata, ketika jari lebih banyak berbicara daripada mulut yang diciptakan Tuhan untuk berbicara!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Unimog Promosi Gratis …

Agus Japloens | | 22 August 2014 | 01:11

Identitas Bangsa Modal dalam Kompetisi …

Julius Deliawan | | 22 August 2014 | 09:42

Sharing Profesi Berbagi Inspirasi ke Siswa …

Wardah Fajri | | 21 August 2014 | 20:12

Pariwisata Mamasa, Mau Kemana? …

Sofian Munawar Asga... | | 22 August 2014 | 11:47

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 5 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 9 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 9 jam lalu

Drama Pilpres Telah Usai, Keputusan MK Harus …

Mawalu | 9 jam lalu

Open Letter to Mr Joko Widodo …

Widiyabuana Slay | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: