Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Imi Suryaputera

Pria, orang kampung biasa, Pendidikan S-3 (Sekolah Serba Sedikit), Etnis : Banjar, Islam (Mu'tazilah). Contact : - selengkapnya

Lapor Saja Ke Youtube Daripada Ke Mabes Polri

OPINI | 05 April 2013 | 21:17 Dibaca: 717   Komentar: 0   3

Beberapa hari ini para pemirsa televisi disuguhi tayangan tentang oknum polisi lalulintas yang disuap oleh seorang turis asing di Bali.
Tayangan tersebut diambil oleh stasiun televisi dari situs youtube yang sangat terkenal itu.

Saya katakan situs terkenal, ini tentu anggapan saya saja, karena di kampung saya sampai ada anak kecil yang kenal dengan youtube.

Situs yang menayangkan kumpulan video amatir dari seluruh dunia ini memang sangat fenomenal. Tak terhitung orang menjadi terkenal di berbagai belahan bumi berkat youtube. Seorang Justin Beiber yang punya fans di berbagai negara, konon menjadi terkenal berkat youtube. Kalau di Indonesia tentu kita masih ingat; Shinta dan Jojo, Udin Sedunia, dan Norman Kamaru (Mantan Anggota Brimob).

Meski langkah youtube ini diikuti oleh media audio visual lain dengan memberi ruang dan kesempatan kepada para citizen journalist untuk mengirimkan hasil karya berupa gambar bergerak dan bersuara, namun tampaknya tak akan mampu melawan eksistensi youtube.

“Youtube itu tak bisa disogok untuk tidak menayangkan video yang dikirim,” kata seorang teman.
Menurut teman itu pula, buktinya tayangan oknum polisi lalulintas yang terima suap itu dengan bebasnya bisa dilihat. Andai saja hasil video yang diambil secara tersembunyi oleh turis Belanda itu diserahkan ke salah satu stasiun televisi di Indonesia, belum tentu ditayangkan, dan rumor tentang oknum polisi bisa dan terima suap tentu akan tetap dianggap rumor.

Nah, kalau begitu youtube bisa dijadikan sarana untuk pelaporan terkait berbagai jenis ketidak beresan di negeri ini.
“Kalau kita melaporkan terkait ketidak beresan para oknum penegak hukum (kepolisian) ke Mabes Polri, belum tentu ditanggapi. Maka alternatif jitu; bikin saja video seperti yang dilakukan turis Belanda itu, upload ke youtube, beres, dan tunggu hasilnya,” ungkap teman saya pula.

Saya pikir ide tersebut cemerlang juga. Kita cuma bermodal peralatan yang sudah kita miliki untuk mengambil gambar secara live, misalkan kamera dari ponsel yang setiap saat kita bawa kemana-mana. Bikin akun di youtube, terserah mau apa namanya, dan jangan lupa isi pulsa yang banyak untuk upload.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | | 31 July 2014 | 17:04

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Ke Candi; Ngapain Aja? …

Ikrom Zain | | 31 July 2014 | 16:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 11 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 15 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 16 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 19 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: