Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Praktisnya Menggunakan Media Online

REP | 12 April 2013 | 08:14 Dibaca: 132   Komentar: 0   0

Teknologi semakin lama semakin berkembang menjadi lebih canggih. Apalagi kini banyak bermunculan piranti yang mempermudah penggunaan teknologi. Manusia diberikan kemudahan untuk mengakses apapun yang ia cari atau inginkan. Dalam dunia digital termasuk internet dunia seakan tidak berbatas. Informasi apapun bisa didapatkan dengan mudah, tinggal mengklik dan sudah didapatkan. Hal tersebut tidak membutuhkan waktu yang lama dan proses yang rumit pula. Sehingga manusia dapat mengirim pesan satu sama lainnya tanpa harus tergantung pada proses manual yang perlu waktu lama lagi.

Dunia jurnalis mendapatkan dampak juga terhadap perkembangan teknologi ini. Terjadi perubahan di dalam media penulisan maupun penyiaran saat ini. Apalagi karena perkembangan teknologi yang makin maju masyarakat menjadi mudah mengakses informasi lewat internet. Sebab akses internet kini dapat didapatkan dengan mudah karena provider telepon seluler kini memberikan penawaran-penawaran tersebut. Indonesia sendiri tidak ingin ketinggalan dimana media massa mengalami perubahan ke arah yang lebih canggih lagi. Sebab hampir semua mulai beralih pada media online, termasuk dalam bidang promosi. Pengiklan banyak yang merasa diuntungkan ketika menggunakan internet sebagai media promosi karena selain tidak perlu biaya yang besar, pengunjung dari internet tersebut cukup banyak sehingga lebih efektif dibanding media lain.

Webb offset dengan sistem cetak dingin (cold printing system), facsimile dan telekomunikasi yang semakin baik (sistem satelit), semuanya mengubah dan menumbuhkan media meassa baru yang implikasinya pada masyarakat besar sekali. Kita masih belum banyak tersentuh dengan hal-hal yang baru ini, namun kita tidak dapat menghindari dari sentuhan dan perubahan yang harus hadapi. Di dalam jurnalistik sendiri ada hal yang baru yang menjadi perbincangan yaitu jurnalistik pembangunan, yang konsepnya datang dari seorang wartawan yang bergerak pada Yayasan Pers Asia (Press Foundation of Asia). Ia melihat fungsi pers di negara-negara berkembang yang dapat mendorong gerak pembangunan. Di sini jurnalistik atau pers tidaklah lagi hanya bersifat menonjolkan berita-berita yang lazim kita kenal, akan tetapi juga harus memberikan fokus perhatian pada masalah-masalah pembangunan dan akibat pembangunan yang dijalankan. Pers dalam konsep jurnalistik pembangunan ini harus dapat pula memberikan harapan kepada masyarakat akan masa depannya (Assegaff, 1999:6).

Walaupun media/jurnalisme online masih sangat baru namun ternyata bisa menjadi salah satu alternatif bagi penikmat atau pencari informasi. Hal tersebut membuat kita bisa mengakses berita tentang kejadian luar biasa yang ada di luar negeri dengan mudah tanpa harus menunggu lama. Hal tersebut yang kemudian sedikit demi sedikit mulai menggerus peran surat kabar harian atau koran. Koran tidak dapat langsung memberikan berita terbaru dari apa yang kita cari.

Apalagi sebagai jurnalisme baru, media online bisa memberikan gambaran baru tentang dunia jurnalisme. Kehadiran jurnalistik baru ini telah memberi keragaman bentuk penulisan bagi para pekerja jurnalis (wartawan). Mengikuti arus perkembangan kehidupan, wartawan kini mulai membuka diri terhadap wacana teknik jurnalisme baru yang tidak lagi membatasi ruang gerak mereka dalam batas deadline dan teknik penulisan berita staright news, yang dianggap kuno (Setiati, 2005:44). Media online ini memberikan breaking news karena terus menghadirkan kejadian yang berlangsung.

Dalam tata dunia yang juga menghendaki perubahan, pertentangan utara selatan juga terdapat pada dunia komunikasi. Negara-negara berkembang tidak lagi puas dengan pelayanan kantor-kantor berita raksasa, mereka menghendaki bahwa mereka mendapatkan tempat yang layak dalam pemberitaan dunia. Demikianlah usaha membentuk pool kantor-kantor berita negara berkembang mulai dilaksanakan. Suatu usaha untuk menghapuskan ketimpangan informasi yang selama ini terjadi antara negara-negara maju dengan negara berkembang. (Assegaff, 1999:6).

Wartawan dituntut untuk terus dapat memperbaharui berita yang diberikan kepada masyarakat secara cepat dan lengkap. Sebab masyarakat selalu ingin mengetahui bagaimana perkembangan suatu kejadian atau kasus terjadi. Media online mencoba mengambil peran tersebut, bagaimana ia mampu menghadirkan informasi yang cepat dan lengkap. Selain itu dengan dukungan teknologi yang canggih seperti smartphone, berita atau informasi tersebut dapat diakses dengan mudah. Kepraktisan tersebut membuat perkembangan media online terus berjalan. Dengan dukungan piranti yang mendukung media online kemudian mereka menambahkan informasi seperti video dan gambar untuk mendukung berita tersebut.

Update berita bisa dilakukan dalam hitungan menit, sehingga sehari bisa terdapat beberapa berita tentang sebuah kasus atau kejadian. Misalnya, lewat Twitter yang paling mudah diakses. Timeline menjadi tempat untuk mengabarkan kejadian sedang berlangsung. Berita online tidak terbatas atas ruang dan waktu.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, hanya dengan menggunakan smartphone yang kecil bisa mendapatkan informasi yang luas dan besar. Ditambah lagi kita bisa mengakses kapan pun kita mau. Sedangkan misalnya koran kita harus menunggu keesokan harinya untuk mendapat kronologis berita yang telah terjadi hari ini. Memang sama-sama bisa dibaca kapapun namun sebagaimana kita tahu koran kurang praktis saat dibaca.

Selain media online, perusahaan media kemudian memunculkan inovasi baru terkait akses internet. Mereka membuat e-paper atau koran elektronik, dimana pembaca atau pelanggan bisa berlangganan secara rutin untuk mengakses koran secara elektronik dengan menggunakan gadget atau smartphone-nya tanpa harus membaca koran “manual”. Koran “manual” ini membutuhkan tempat untuk menyimpan sehingga bila dibandingkan dengan koran elektronik bagi orang yang aktif akan sangat membantu.

Kepraktisan lewat internet ini membuat perusahaan media memandang bahwa media online sebagai lahan bisnis yang sangat potensial. Para pengiklan yang telah beralih ke media online juga akhirnya mempunyai wadah untuk menampilkan iklan mereka tersebut. Itulah yang kemudian dimanfaat perusahaan media. Sebagaimana yang kita tahu bahwa sekarang adalah era industri media dimana tujuan dari perusahaan media adalah keuntungan, atau yang kita kenal dengan profit oriented. Beberapa perusahaan media yang mulai merambah ke media online seperti Kompas dengan Kompas.com, MNC Group dengan Okezone.com, Trans Corporation dengan Detik.com, Tempo dengan Tempo.co dan Tempointeraktif.com, Metro TV dengan Metrotv.com dan Liputan 6 SCTV dengan Liputan6.com. Dengan pelopornya yaitu Detik.com media online yang pertama kali dibuat dengan serius.

Kewajiban media massa adalah membimbing pembaca lebih cerdas. Media massa dapat berperan dalam mengkonstruksi suatu peristiwa untuk pemberntukan realitas sosial. Untuk melakukan hal ini, media massa dapat mengelola informasi menjadi lebih bermakna, dengan menggunakan analisis framing. Tujuan wartawan melakukan analisis framing adalah membuat informasi yang disampaikan oleh wartawan menjadi lebih bermakna, lebih menarik dan pembaca pun lebih berminat mengetahui jalan peristiwanya. Oleh karena itu, wartawan dituntut cerdas dalam menganalisa suatu peristiwa yang tengah diliputnya (Setiati, 2005:75-76).

Namun bila diamati media online yang dengan cepat menampilkan berita atau informasinya tersebut tetap mempunyai kelemahan. Kepraktisan tersebut memang memberikan dampak positif dimana ia memberikan kemudahan dan kemurahan bagi para penggunanya. Namun di sisi lain update berita yang diberikan media online menjadikan sering terjadinya pengulangan pada isi berita. Beberapa informasi yang diberikan pada judul sebelumnya biasanya akan diulang kemudian di bagian penutup atau menuju artikel-artikel terakhir.

Seperti yang telah disinggung bahwa sudah menjadi kewajiban wartawan bahwa media harus membimbing pembaca lebih cerdas. Ketika berita tersebut berulang-ulang secara tidak langsung informasi yang didapatkan sama hanya berbeda sedikit dan informasi yang diinginkan sebenarnya juga tidak terpenuhi. Keputusan tetap di tangan pembaca bagaimana dengan cerdas mengelola terpaan informasi yang didapat.

DAFTAR PUSTAKA

Assegaff, Dja’far H. Jurnalistik Masa Kini. 1999. Jakarta:Ghalia Indonesia

Setiati, Eri. Ragam Jurnalistik Baru dalam Pemberitaan. 2005. Yogyakarta:C.V. ANDI OFFSET

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jokowi Jadi Presiden dengan 70,99 Juta Suara …

Politik14 | | 22 July 2014 | 18:33

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 14 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 15 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 16 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 16 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: