Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Guru Adalah Dewa, yang Siap Membentuk karakter Generasi Bangsa yang Berkualitas

OPINI | 26 April 2013 | 19:38 Dibaca: 76   Komentar: 0   0

Salah satu jalan terbaik menuju masa depan yang cerah sekaligus berguna untuk nusa dan bangsa, ialah belajar dan belajar. Kecerdasan individual tidak datang dari hal yang besar atau berpaten pada ke-egois-an manusia.

Namun kecerdasan itu, datang dari hal terkecil. Dimana hal terkecil itu, akan bermanfaat untuk menemukan pada hal yang besar.

Berdasarkan hal tersebut perlu ada komitmen. Sehingga komitmen itu menciptakan sesuatu yang bermanfaat di kemudian hari. Contohnya menemukan ide, lalu gunakan ide itu menjadi batu loncatan ke depan. Sehingga mendaptkan manfaat yang baik di kemudian hari.

Sama hal dengan proses pembelajaran. Belajar mengenai berbagai macam pengetahuan sangat baik ketimbang hanya diam terpaku di satu rumah tanpa ada sebuah proses yang di lakukan. Ini akan berpengaruh pada tingkat gaya berpikir individu.

Oleh karenanya, untuk mengatasi persoalan ini perlu ada pendampingan salah satunya guru.

Guru menjadi modal utama dan terutama dalam pembentukan kader-kader pemimpin yang jelas demi nusa dan bangsa terutama di dunia pendidikan.

Sehingga berjalan dalam satu arah yang jelas, kita sebagai muridnya juga harus berperang penting dalam mengapresiasi yang namanya kontak langsung, Artinya harus aktif dalam kelas, seperti membuat pertanyaan, mengadakan tanya jawab dan lain sebagainya

Tercipta karakter berkepribadian muda yang berkualitas dan bermutuh. Biasanya datang dari kemauan dan kerja keras dalam diri pribadi seperti adakan tanya jawab dll.

Itu akan memotivasi diri pribadi, sehingga proses yang kita lakukan akan berjalan baik sesuai dengan gaya hidup pribadi.

Guru sangat penting dalam dunia pendidikan. Disetiap sekolah pastinya terdapat sang guru yang mana selalu turut mengadikan dirinya, untuk mengajari dan mendampingi murid-muridnya. Akan hal ini, seharusnya memberikan sebuah apresiasi positif, sehingga rasa percaya diri sang guru tetap termotivasi untuk mengajar.

Kadang guru tidak betah tinggal pada tempat tugasnya. karena ada alasan-alasan yang menurut mereka tidak baik. Seperti letak geografis tidak mendukung, ekonomi terbatas dan lain sebagainya. Lalu pergi ke luar kota, yang ada keramaian. Contoh saja, guru-guru di daerah-daerah terpecil.

Guru bukan sekedar hanya mengajar dan mendampingi. Namun, guru harus berpegang pada prinsip bahwa dimana saya menempatkan diri, dan dimana saya bertugas, entah di daerah terpencil atau di kota. Seharusnya guru menyadari hal itu. alangkah baik, guru menciptkan komitmen sendiri.

Pembelajaran akan baik, bila ia benar-benar menempatkan dirinya kepada murid-muridnya. berani mengajari dan mendampingi dengan sungguh-sungguh kepada murid-muridnya.

Otomatis murid-murid akan mendengarkan dengan baik pula. Dan akan siap melaksanakan dengan baik ketika guru memberikan tugas.

Oleh karena itu, sang guru adalah pondasi pembentuk karakter berjiwa pemimpin bagi nusa dan bangsa. Yang natinya siap membangun nusa dan bangsa yang jelas pula.

Kata orang dimana ada pendidikan disitu ada ilmu/pengetahuan. Ini adalah upaya untuk menciptakan kader-kader penerus bangsa. Maka kita sebagai murid-murid (generasi) yang masih mengenal pendidikan perlu berusaha mengejar cita-cita dan harapan setinggi-tinggi mungkin.

Disaat mengenal hal tersebut, jangan mempermainkan pendidikan seperti sepak bola,tendang sana tendang sini, sebab permainan akan mempermainkan pribadi yang sedang berusaha sewaktu ia belajar dengan sungguh-sungguh.

Oleh karenanya, guru adalah dewa. Yang harus kita puji dan kita hormati. Banyak yang sukeses karena melalui guru. Bila tidak ada guru, tidak akan pasti mencapai kesuksesan dengan maksimal.

Alexander Gobai

Tags: opini

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tertangkapnya Polisi Narkoba di Malaysia, …

Febrialdi | | 01 September 2014 | 06:37

Menjelajahi Museum di Malam Hari …

Teberatu | | 01 September 2014 | 07:57

Memahami Etnografi sebagai Modal Jadi Anak …

Pebriano Bagindo | | 01 September 2014 | 06:19

Kompas TV Ramaikan Persaingan Siaran Sepak …

Choirul Huda | | 01 September 2014 | 05:50

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 5 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 6 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 6 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 7 jam lalu

Kisah Ekslusive Tentang Soe Hok Gie …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | 7 jam lalu

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | 8 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 8 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 8 jam lalu

‘Royal Delft Blue’ : Keramik …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: