Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Achmad Siddik

Perawat Komunitas Pohon Inspirasi yang cinta pada Yang Mencipta Pohon. Ingin menghembus sejuknya inspirasi, merentang selengkapnya

Fahri Hamzah: Sang Dinamit yang “Meledakkan” PKS

OPINI | 12 May 2013 | 20:36 Dibaca: 1420   Komentar: 25   4

13683657211059607234

Fahari Hamzah (tengah) diantara Timwa Century (Kompas.com)

Fahri Hamzah (FH), politikus muda dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menjadi “bintang” hampir di semua kanal media. Kesibukan FH bertambah padat dengan wawancara live dengan berbagai stasiun TV Swasta setelah kasus penyitaan beberapa mobil di kantor DPP PKS sejak senin malam (6/5/2013).

Rasanya hampir tiap hari di televisi yang berbeda FH rutin muncul dengan tema yang mirip dengan judul yang beragam. Ada tagline “KPK vs PKS”, ada “PKS Melawan” dan tagline lainnya. Intinya, setiap pemberitaan terkait penyitaan atau upaya KPK menyita mobil yang diduga hasil Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dari tersangka suap impor daging Luthfi Hasan Ishaq (LHI), FH lah yang tampil mewakili PKS.

Awalnya pertarungan sengit terjadi antara Johan Budi (JB) dan FH terkait gagalnya upaya penyitaan mobil di kantor DPP PKS oleh tim KPK. Metro TV dan TVone dengan cepat mengangkat isu ini dan mempertemukan dua narasumber utama yaitu FH dari PKS dan JB dari KPK. Di Metro TV FH berani menyerang dengan istilah “JB Berbohong”. Ungkapan ini diungkapkan berkali-kali oleh FH karena dia merasa yakin bahwa KPK tidak membawa surat penyitaan. Sebaliknya JB membalas pernyataan FH dengan nada yang kurang meyakinkan sehingga FH terkesan mendominasi debat ini. Belakangan ini talkshow terkait PKS dan KPK tetap menghadirkan FH namun JB tidak muncul.

Tak tanggung-tanggung FH yang berasal dari Nusa Tenggara barat ini, tak segan “nge-mop” host acara saat pertanyaan yang diajukan sudah melenceng dari tema. FH tak mau disetir oleh opini dari host atau media yang mengundangnya wawancara atau debat. Ia sudah menyiapkan serangan balik agar tidak terjebak arus pertanyaan yang terkadang diluar konteks tema yang ditawarkan dan disepakati dari awal. Memang wawancara dengan FH perlu bahasa yang tepat bagi presenter agar tidak membuat “malu” sendiri

Gaya politisi mantan ketua KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) di awal reformasi yang meledak-ledak bak dinamit ini, tidak hanya saya saksikan pada kasus KPK dengan PKS seminggu terkahir ini. Daam setiap momen debat ataupun dengar pendapat, FH memiliki karakter khas dengan nada dan kalimat yang menggelegar yang ditangkap sebagian orang sebagai ungkapan emosional atau bahkan marah dan tidak santun.

Bahkan saya menyaksikan pertarungan debat yang bisa mengalahkan debat KPK dan PKS belakangan ini jauh hari sebelumnya. Saat itu saya menonton tayangan debat di Metro TV yang membahas ancaman partai koalisi yang mengancam PKS agar keluar dari secretariat gabungan (Gabungan). Di acara itu FH berhadapan dengan politisi yang juga “keras” dari Partai Golkar yaitu Idrus Marham. Bagi yang mengenal Idrus Marham, tentu saja tak menyangkal bahwa dia juga punya tipikal yang tidak jauh berbeda dengan FH saat berbicara. Apa yang terjadi? Pembawa cara saat itu (saya lupa namanya) tak bisa mengendalikan dua pendebat sengit ini dan wajah Idrus Maham merah padam menghadapi serangan balik dari FH.

Fenomena FH di PKS sekilas merupakan anomali dari karakter umum politisi PKS yang umumnya kata-katanya terpilih dan intonasinya yang lemah lembut. Sebut saja Hidayat Nur Wahid, Mahfudz Sidiq dan Mardani Ali Sera. Mereka biasanya muncul mewaklili PKS dalam isu-isu politik di media. Juga ada Anis Matta, yang meskipun berasal dari Sulawesi Selatan, namun kata-kata yang keluar jarang bernada menyerang dan terkesan “puitis”. Dan FH dengan gayanya yang khas seolah menjadi “senjata” tersendiri yang tidak disadari oleh banyak orang. Mungkin PKS juga menyimpan banyak politisi dan kader-kader yang keras dan meledak-ledak seperti FH untuk dihadapkan dengan pihak-pihak yang merugikan eksistensi partai berlambang bulan sabit dan padi emas ini.

Yang jelas, FH dengan ledakan-ledakan ungkapan dan suaranya telah membuat PKS semakin “meledak” menjadi sumber berita. Fakta yang relevan, sampai-sampai wartawan harus memakai tenda untuk “hunting” berita terkait PKS. Berikut kutipan berita bagaimana PKS menjamu “tamu” yang tak lelah memburunyabelakangan ini.

“Di bawah tenda warna putih dihiasi ornamen emas khas PKS ini disediakan kursi untuk para peliput berita. Sekitar 20-an wartawan duduk-duduk menunggu rapat di DPP PKS. Di dalam tenda disediakan minuman dan makanan alakadarnya. (Baca detik.com : Kantor DPP Ditutp PKS Buat Tenda Wartawan di Jl. TB Simatupang)

Memang kantor DPP PKS sedang menjadi pusat liputan setelah KPK menyegel 6 mobil milik eks Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq. Di DPP PKS sendiri tengah digelar rapat Majelis Syuro yang menurut informasi dari sejumlah pengurus masih lama selesainya.”

Wah, sampai segitunya media “memburu” PKS. Apakah FH telah berhasil meledakkan opini di media sehingga tak henti-hentinya PKS menjadi sumber berita? Apakah melalui “dinamit” FH PKS kembali menguasai opini pemberitaan? Saya tidak mau memyimpulkan, tapi Anda bisa melihat tren topik perbincangan di media sosial terkait isu poltik di politicawave seperti gambar dibawah ini :

1368365044169247440

Trend Media (twiiter), PKS Mendominasi

13683652071867505621

Share of Awareness dan Share of Citizen, PKS masih dominan (politicawave.com 12/5/2013)

Fenomena “penguasaan” PKS di media sosial kembali terulang seperti pasca penangkapan LHI dan Gerilya Anis Matta dengan orasi-orasinya yang membakar. (Baca “Pertarungan di Media Sosial, PKS Pemenangnya?). PKS setidaknya punya Anis Matta yang tidak bisa dipungkuri mampu membakar semangat kader-kadernya hingga lepas dari sulit pasca penangkapan LHI. Anis Matta Effect juga diyaakini memberi kontribusi bagi kemenangan du acalon PKS dalam Pilgub di Jawa barat dan Sumatera Utara. (Baca juga : “Anis Matta Effect Mengalahkan Jokowi Effect?”)

Akankah FH dengan ledakan-ledakannya mampu menjadi dinamit seperti julukan Tim Sepakbola Denmark di Piala Eropa tahun 1992. Apakah ledakan FH mampu melambungkan elektabilitas PKS atau sebaliknya mengubur harapan partainya meraih 3 besar di Pemilu 2014? Kita tunggu kelanjutan kiprah FH dan PKS di pusaran perpolitikan Indonesia.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Rayuan Pohon Beringin …

Robby Anugerah | 8 jam lalu

Dalam Sebuah Hubungan, Jangan Gantung …

Syaiha | 8 jam lalu

Saran yang Menyesatkan Dari Petugas Call …

Erwin Mulialim | 8 jam lalu

Pangdam VII/Wirabuana Bakal Bekali Wawasan …

Ilmaddin Husain | 8 jam lalu

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: