Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Michael Sendow

Redaktur Majalah Infosulut. Writer. Trainer & Motivator. As long as you are still alive, you selengkapnya

Kebebasan Media, Penyebaran Informasi dan Orang-orang yang Rakus Informasi

OPINI | 22 July 2013 | 10:34 Dibaca: 350   Komentar: 4   7

SEMENJAK dunia diperkenalkan kepada Internet, maka segala bentuk keterbukaan, dan penyampaian berita apapun menjadi semakin cepat dan bebas seakan tanpa batas. Dalam arti, setiap individu mempunyai kesempatan dan kemungkinan yang sama untuk mengetahui atau pun menyebarkan berita. Tentu saja syarat pertamanya adalah dia harus memiliki computer dan jaringan Internet. Kalaupun tidak, dia harus punya akses ke warnet terdekat.

Nah, sekarang ini adalah masa keemasan setiap orang untuk memberi dan menerima. Ia dapat membagikan apa yang ia tahu, dan menerima dari orang lain informasi yang tadinya dia belum tahu hanya dalam sekejapan mata. Kalau misalnya ratusan tahun yang lalu umpamanya kalimat perwahyuan ini, “Akan ada satu bangkai yang disaksikan oleh seluruh dunia…”, masih merupakan sebuah kemustahilan. Sesuatu yang sepertinya sangat tidak masuk akal. Tapi kini, dengan perkembangan pesat teknologi informasi, hal itu bukan lagi sesuatu yang aneh dan mustahil. Kejadian apapun yang terjadi di belahan dunia manapun, hanya dalam hitungan detik sudah dapat kita saksikan di sini.

Informasi dan berbagai sajian dengan begitu massive dan nampaknya tanpa terputus selama satu hari penuh tak pelak lagi adalah keniscayaan yang tidak mungkin disangkal dan dielakkan lagi. Kesempatan ini tentu secara serempak menyimpan serta memberikan dua dampak sekaligus, yaitu dampak negatif dan positifnya. Bidang apapun yang kita geluti akan terus terkena imbas perkembangan teknologi informasi ini. Ekonomi, pemasaran, budaya, bahasa, politik dan yang lain-lainnya akan menerima dampaknya.

Belum lepas dari ingatan kita, di sekitar tahun 1994, SIUPP tiga media besar di Indonesia dicabut oleh Departemen Penerangan. Ketiga media ini ditutup oleh karena (katanya) tidak menyelenggarakan kehidupan pers Pancasila yang sehat dan bertanggung jawab. Ini dipertegas lagi dengan anggapan bahwa hal tersebut dapat saja mengganggu stabilitas nasional. Suatu hal, yang menurut hemat saya sangatlah lebay. Kekuasaan yang terlalu otoriter terhadap kebebasan pers justru akan sangat mengerdilkan dunia pers itu sendiri. Ini sesungguhnya dapat dikatakan sebagai awal runtuhnya ‘kemerdekaan menyampaikan pendapat’ serta ‘kebebasan membagikan informasi’. Tentu akan sangat disayangkan kalau media dipaksa atau terpaksa menjadi ‘corong satu arah’ para penguasa yang sementara berkuasa.

Di tahun yang sama tersebut, kemudian kalangan media saat itu mencoba ‘memberi sedikit perlawanan’ atas otorianisme yang senantiasa memberangus independensi media . Maka tak lama berselang berdirilah Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang lantas kemudian menerbitkan sebuah majalah yang dinamai Suara Independen. Isinya tentu saja sangat berlawanan dengan apa yang disampaikan oleh berbagai media yang sudah ‘dikuasai’ oleh penguasa Orde Baru pada waktu itu, dan selama bertahun-tahun dapat dianggap tidak sehat lagi. Peran media tidak lagi netral dalam pemberitaan. Nah, Suara Independen adalah angina segar. Mereka itu kalau boleh saya bilang adalah sebagai information-contrarian atas media corong yang sudah dipegang penguasa. Tapi apa daya, penguasa saat itu sangat kuat dan arogan. Akhirnya para pegiat dan aktivis di majalah tersebut pun ditangkap dan dipenjara.

Nanti, di kemudian hari, setelah tumbangnya Orde Baru barulah tatanan media tanah air kembali menemukan nafas segar dan semangat baru mereka. Saat itu, jumlah media yang bermunculan bagaikan jumlah bintang di langit dan pasir di laut. Sangat luar biasa. Ruang penyebaran informasi kemudian menjadi sangat ‘ganas’. Ibarat sebuah kanker yang meradang, ia masuk sampai ke pelosok dan sudut tersempit sekalipun. Tidak ada pemberangusan lagi. Tidak ada ketakutan lagi. Media bahkan menjadi ladang berbisnis karena begitu mudahnya perizinannya. Asalkan punya modal dan sumber daya yang cukup, Anda dapat memiliki penerbitan majalah atau surat kabar sendiri. Dan lagi, seiring berjalannya waktu media digital pun turut berkembang dengan semangat dan animo yang sama besarnya.

Kini, hari ini, pun detik ini juga, akan dengan mudahnya Anda jumpai berbagai media online yang menyajikan beragam informasi terhangat. Sebut saja, Kompas.com, Detik.com, Inilah.com, Kompasiana.com, dan masih banyak lagi. Bahkan pun hampir di setiap daerah bermunculan media onlinenya masing-masing. Informasi terhangat, terpenting, dan terdahsyat dapat Anda peroleh dari bilik kamar saat itu juga, tanpa perlu menunggu keesokan harinya untuk membacanya di media-media cetak. Ini tentu adalah sebuah pencapain luar biasa dari mahluk bernama manusia. Pencapaian yang mesti disikapi dengan sebijak mungkin. Karena saat ini, dengan begitu banyaknya informasi yang berseliweran dan dapat kita akses dengan gampang, menjadikan diri kitalah satu-satunya filter terakhir menyaring semua informasi yang kita terima itu. Informasi itu harus kita saring, kelola, dan simak dengan teliti sebelum kita ikut terjebak dalam euphoria kebebasan yang kebablasan. Kita harus mampu mengukur dan menakar kebenaran sebuah informasi sebelum kita ikut-ikutan menyebar-luaskannya ke semakin banyak orang.

Media memiliki kekuatan yang amat menakutkan dalam menyebarkan informasi, membentuk opini dalam suatu tatanan masyarakat, sampai kepada pembunuhan karakter. Kekuatan besar media ini akan menjadi semakin terasa karena dikelilingi oleh manusia-manusia yang tidak hanya haus informasi tapi juga ‘rakus informasi’. Ibarat gula yang selalu dikerubuti semut. Sudah saatnya, kebebasan pers dan media teresebut disikapi dengan kebebasan berpikir kita. Artinya begini, media bebas menyebarkan informasi yang menurut mereka benar, tapi kita punya kebebasan menentukan apakah kita harus percaya terhadap informasi itu atau tidak. Kita bebas sebebas-bebasnya untuk tidak juga mempercayainya.

Akhirnya, untuk menutup tulisan ini, saya ingin menyitir pendapat seorang pakar komunikasi bernama Edward. Dia bilang begini, “Kecepatan komunikasi terlihat ajaib. Adalah juga benar bahwa kecepatan tersebut dapat melipatgandakan penyebaran informasi yang tidak benar.”
(Edward R. Murrow). Semoga kita tidak menjadi penyebar informasi yang keliru. —Michael Sendow—

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Meriah Nobar Relawan di Episentrum Kalla …

Indra Sastrawat | | 20 October 2014 | 12:56

Ibu Negara Kita Kenyes-Kenyes dan Cantik …

Mafruhin | | 20 October 2014 | 08:58

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Tolong … Emosi Saya Dibajak! …

Hendri Bun | | 20 October 2014 | 13:20

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Standing Applause, Bagi Kehadiran Prabowo …

Abah Pitung | 5 jam lalu

Beda Perayaan Kemenangan SBY dan Jokowi …

Uci Junaedi | 5 jam lalu

Ramalan Musni Umar Pak Jokowi RI 1 Jadi …

Musni Umar | 8 jam lalu

Jokowi Dilantik, Pendukungnya Dapat Apa? …

Ellen Maringka | 8 jam lalu

Ucapan “Makasih SBY “Jadi …

Febrialdi | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Curahan Hati Indra Sjafrie .. …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Setelah Menjadi Relawan Jokowi, Selanjutnya …

Maulana Zam | 7 jam lalu

Melihat Jokowi dari Papua …

Moh. Habibi | 7 jam lalu

Buku Adalah Dunia, Bukan Jendela …

Nitaninit Kasapink | 7 jam lalu

Pelantikan Presiden yang Mengukir Sejarah …

Mamank Septian | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: