Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Adi Pradana

Belajar dari kesalahan untuk mencapai cita-cita yang 'ROMANTIS'

Karena Didugan Dukun Santet, Seorang Warga Dibakar

REP | 02 August 2013 | 21:37 Dibaca: 417   Komentar: 1   0

1375454111514067918

Beberapa kerabat korban histeris melihat jenazah H.Pasa Rinto dievakuasi.(foto:KM-Wadupaa)

BIMA (NTB)—Seorang warga RT02 Desa Wadukopa Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima-NTB—H Pasa Rinto (70)—dihakimi dan dibakar massa hingga tewas di lapangan, desa setempat. Kejadian diperkirakan pukul 10.30 Wita, Jum’at (2/8) pagi, lantaran diduga dukun santet.
Meskipun dalam bulan Ramadhan, amarah warga setempat tidak mampu memaknai dengan hal positif atau bertahan diri.
Informasi yang dihimpun MNnews di lapangan menyebutkan, aksi “main hakim” oleh sekelompok warga tersebut diduga dipicu setelah meninggalnya Nurita (28), di desa setempat. Kelompok massa yang terprovokasi menduga penyebab meninggalnya wanita itu lantaran ulah korban (H Pasa,red) yang mengirim santet, sehingga aksi menyerang dan pengrusakan rumah korban tidak bisa dibendung. Selain itu, massa kemudian membacok dan menyeret korban hingga ke lapangan sepakbola desa setempat, atau sekitar 200 meter dari rumah korban.

Sementara menurut informasi lain—tiga hari sebelumnya, Nurita asal warga lain yang meninggal sebelum insiden tersebut diobati seorang dukun dari luar desa setempat. Saat itu, dukun menyebutkan jika warga tersebut menderita sakit karena diguna-guna oleh korban. Sebelum meninggal, wanita 28 tahun itu berteriak menyebut-nyebut nama korban (H Pasa,red), sehingga memancing kuat kecurigaan dan kemarahan sekelompok massa hingga menyerang rumah H Pasa Rinto.

Kapolres Bima Ajun Komisari Besar Polisi (AKBP) Ekanawa Prasta mengatakan, aparat Kepolisian masih menyelidiki dan menyidik motif aksi sekelompok massa membakar korban. Namun informasi yang dikumpulkan, aksi pembakaran korban dipicu lantaran dicurigai sebagai sebagai dukun santet.
“Untuk sementara kami masih mengumpulkan infomasi, melakukan upaya penyelidikan dan penyidikan,” katanya di lokasi kejadian.

Pasca kejadian, lanjut dia, aparat Kepolisian langsung mengevakuasi anak dan istri korban ke Mapolres Bima Kabupaten guna menghindari aksi lanjutan massa.
Dari kejadian itu, dari penyelidikan awal, aparat Kepolisian telah mengantungi sejumlah nama warga yang melakukan aksi kekerasan hingga menyebabkan korban tewas. “Kita akan memeriksa keluarga korban sebagai saksi, karena ini dari informasi melibatkan kelompok orang dari dua desa. Jika ada halangan, kita akan melakukan pemanggilan paksa,” tegas Kapolres.

Pantauan MNnews di lokasi pasca kejadian, personil Kepolisian telah disiagakan di lokasi untuk menjaga kondisi keamanan.

Sementara di TKP, ratusan warga tampak memadati lokasi kejadian di lapangan sepak bola desa Wadokopa dan rumah korban, sekira pukul 13.00 Wita, setelah sholat Jum’at. sedangkan proses pemindahan jasad korban, baru dilakukan sekira pukul 15.15 Wita dengan menggunakan ambulan menuju RSUD Bima untuk selanjutkan dioutopsi. Terlihat beberapa kerabat korban histeris saat jasad H Pasa dievakuasi.(*)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mengintip Kerja Detektif Purbakala …

Dhanang Dhave | | 31 March 2015 | 11:45

Mencari Surga Melalui Film [Review ASDR] …

Agung Han | | 31 March 2015 | 06:01

Jadwal Kegiatan Kompasiana di Bulan April …

Kompasiana | | 31 March 2015 | 18:08

Berpetualang ke Padang Pasir Pinnacles, …

Tjiptadinata Effend... | | 31 March 2015 | 16:45

[Blog&Photo Competition] Saatnya Non …

Kompasiana | | 17 March 2015 | 16:48


TRENDING ARTICLES

Tragis, Indonesia Gagal Lolos ke Piala Asia …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Psst! Sekarang Ada Front Pembela Ahok …

Pebriano Bagindo | 9 jam lalu

Begini Cara Lesbian Menyalurkan Hasratnya …

Seneng Utami | 11 jam lalu

Kata Siapa #JombloItuSehat? …

Hendra Wardhana | 12 jam lalu

Kritik Atas Pemblokiran Domain Penyebar …

Harja Saputra | 20 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: