Back to Kompasiana
Artikel

New Media

Ryan M.

Kompasianer bisa membaca tulisan-tulisan lama di Featured Article "Daftar Lengkap Tulisan Saya di Kompasiana" di selengkapnya

Sedang Kehabisan Ide Menulis? Tarik Nafas Dulu, kemudian…

OPINI | 22 October 2013 | 01:58 Dibaca: 181   Komentar: 10   4

Ilustrasi (sumber foto : media.viva.co.id)

Ilustrasi (sumber foto : media.viva.co.id)

Sedang kehabisan ide untuk menulis?

Saya rasa hampir semua Kompasianer pernah merasakan hal tersebut.  Hasrat hati sedang ingin menulis, apa daya sedang tak ada ide.  Berbagai hal sudah dilakukan, namun tetap saja tidak ada ide yang muncul.  Sudah sekian jam berlalu namun layar komputer tetap putih bersih.  Bahkan untuk sekadar menulis satu kalimat pun rasanya buntu.

Apa yang harus dilakukan?

Pertama, tarik nafas dalam-dalam, lupakan sejenak keinginan untuk menulis, kemudian ambillah satu buah buku yang selama ini belum tersentuh karena kesibukan Kompasianer sebagai penulis.  Amati baik-baik buku tersebut.

Bisa jadi dari buku tersebut akan lahir ide yang bisa dikembangkan menjadi bahan tulisan.

Katakanlah saya saat ini sedang memegang sebuah buku lama “State of Fear” karya penulis favorit saya - Michael Crichton - ternyata banyak ide yang bisa digali dari situ.

Pertama, kita bisa menulis review singkat tentang buku tersebut, berapa harganya, seperti apa sinopsisnya, apa penilaian kita tentang tampilan fisik buku tersebut (kualitas kertas, kerapatan tulisan, cover buku), dll misalnya :

“State of Fear merupakan karya Michael Crichton yang sudah lama saya cari-cari.  Saya akhirnya mendapatkan buku tersebut di Gramedia Matraman dengan harga sekitar Rp 70.000.  Desain sampulnya yang bergambar badai tornado hitam sudah cukup menceritakan isi novel tersebut.”

Kedua, kita bisa menulis tentang si pengarang, berapa usianya, berapa banyak karyanya, bagaimana gaya penulisannya, dll misalnya :

“Michael Crichton dikenal sebagai seorang novelis yang mampu mengaburkan batas antara fiksi dengan realita.  Beberapa karyanya yang terkenal dan sudah difilmkan antara lain Jurassic Park, Sphere, dan Congo.”

Ketiga, kita bisa menulis tentang hal yang diceritakan buku tersebut.  Misalnya karena “State of Fear” bercerita tentang isu pemanasan global, kita bisa terinspirasi untuk menulis tentang hal tersebut disesuaikan dengan pandangan pribadi kita (dan dibandingkan dengan pandangan si penulis buku).  Dan karena Michael Crichton menyisipkan banyak catatan kaki dan tautan, kita bisa menelusurinya untuk menjadi bahan tulisan misalnya :

“Benarkah dunia saat ini sedang mengalami pemanasan global?  Bagaimana seandainya isu pemanasan global hanyalah usaha para industrialis besar untuk membunuh kompetitor dari belahan dunia lain dengan cara menerapkan standar baru terhadap sebuah produk?  Lewat bukunya yang berjudul State of Fear, Michael Crichton mengemukakan sebuah pendapat yang cukup mengejutkan dan mencengangkan bahwa global warming adalah sebuah kebohongan!”

Bahkan dialog yang ada di buku tersebut bisa kita kembangkan dan dijadikan ide tulisan misalnya :

“Ada satu dialog yang menyentil dalam buku State of Fear di halaman 136 tentang bagaimana orang-orang berbicara mengenai perusakan lingkungan yang dilakukan oleh negara-negara dunia ketiga, sementara pembicaraan itu sendiri dilakukan dalam sebuah pesawat jet pribadi yang tingkat polusinya melampaui tingkat polusi per kapita yang dihasilkan rata-rata penduduk dunia selama setahun.”

Keempat, kita bahkan bisa menulis tentang entitas (personal maupun organisasi) yang ada disebutkan di buku tersebut.

“EPA (United States Environmental Protection Agency) adalah badan yang dibentuk pemerintah Amerika Serikat untuk melindungi kesehatan warga dan lingkungannya.  EPA dibentuk tanggal 2 Desember 1970 dan pengurusnya ditunjuk langsung oleh Presiden Amerika Serikat.”

Hm… Ternyata cukup banyak ide yang bisa kita dapat “hanya” dari sebuah buku.  Jadi, sudah siap untuk kembali menulis?

Semoga posting saya kali ini bermanfaat, tetaplah menulis…

Dipublish pertamakali di www.kompasiana.com, copasing diizinkan dengan mencantumkan URL lengkap posting di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini)
 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 3 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 3 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 4 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 10 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Inovasi, Kunci Indonesia Jaya …

Anugrah Balwa | 8 jam lalu

Hak Prerogatif Presiden dan Wakil Presiden, …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Sakitnya Tuh di Sini, Pak Jokowi… …

Firda Puri Agustine | 8 jam lalu

Kebohongan Itu Slalu Ada! …

Wira Dharma Purwalo... | 8 jam lalu

Rethinking McDonald’s, Opportunity …

Yudhi Hertanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: